Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mitos dan fakta glaukoma pemicu kebutaan tanpa gejala, waspada usia 40 tahun

GOHANS MIND, JAKARTA - Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang secara perlahan merusak saraf optik. Kerap berkembang tanpa gejala, pengecekan dini pun jadi keniscayaan, apalagi bagi yang sudah menginjak 40 tahun.

Jaringan rumah sakit dan klinik mata kenamaan, JEC Group pun menggelar edukasi dan skrining di sejumlah kota dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026 pada 8–14 Maret, dengan harapan masyarakat mengenal glaukoma sejak dini.

Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K) menekankan penyakit yang kerap dijuluki 'the silent thief of sight' ini telah menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

"Sekitar 80%–90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, terutama di negara berkembang. Biasanya baru setelah sudut pandangan semakin menyempit, ada kehitaman di atas dan bawah, sehingga pasien biasanya jadi sering tersandung," jelasnya dalam acara edukasi peringatan Pekan Glaukoma Sedunia JEC Group, dikutip Jumat (13/3/2026).

Sekadar info, glaukoma terbilang merepotkan kalau sudah telanjur alias telah sampai tingkat ekstrem. Sebab, pandangan mata pasien mayoritas buram kehitaman, tersisa bulat saja di tengah (tunnel vision), sebelum akhirnya mencapai kebutaan total.

Terlebih, berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun dapat dicegah dan ditekan melalui deteksi dini dan pengobatan. 

Walaupun kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, faktor risiko lebih tinggi buat individu di atas 40 tahun, punya mata minus tinggi, diabetes, penggunaan obat dengan steroid secara jangka panjang, dan punya riwayat genetik dari keluarga.

Peningkatan tekanan di dalam bola mata merupakan penyebab utama kondisi ini. Tekanan ekstrem akan membuat saraf optik menjadi lebih rentan, dan kerusakan dapat terjadi secara bertahap, hingga menyebabkan penyempitan pandangan dan berujung pada kebutaan.

"Tekanan bola mata normal berada pada kisaran 10–21 mmHg. Glaukoma di atas itu. Makanya, pengobatan utamanya buat mengontrol tekanan lewat membuat jalan aliran air bola mata bisa ke depan," ungkapnya.

Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda. 

Pertama, Glaukoma Primer Sudut Terbuka yang paling sering ditemui, berkembang perlahan, dan sering tanpa gejala. 

Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.

Kedua, Glaukoma Primer Sudut Tertutup, merupakan jenis yang dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur, sehingga termasuk kegawatdaruratan medis.

Ketiga, Glaukoma Kongenital yang terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.

Terakhir, Glaukoma Sekunder terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.

"Jenis Glaukoma pasien turut menentukan sebagai bahan diskusi soal penanganannya nanti. Apakah bisa obat tetes dulu, apakah mau laser, atau harus operasi," tambahnya.

Menurut dr. Zeiras, ada beragam mitos dan pertanyaan umum yang kerap berkembang di masyarakat soal Glaukoma. Berikut beberapa ulasannya:

Apakah minus tinggi bisa menyebabkan glaukoma?

Jawabannya benar sebagian. Sebab hanya minus tinggi di atas enam, bahkan baru signifikan sampai minus belasan atau puluhan.

"Dari panjang bola mata normal, kalau lebih panjang itu jadi minus, kalau lebih pendek jadi plus. Nah, kekhasan struktur yang minus, misalnya saraf lebih tipis, punya risiko saraf mudah lepas, dan ada gangguan saluran keluar air bola mata. Jadi memang risiko lebih tinggi dan harus sering skrining," ungkap dr. Zeiras.

Apakah katarak biasanya beriringan dengan glaukoma?

Jawabannya benar. Lensa mata yang katarak itu menebal dan mendesak struktur mata, memicu peningkatan tekanan bola mata, sehingga bisa menyebabkan glaukoma sudut tertutup.

"Lensa menebal bisa mendorong iris menutup saluran air, jadi kalau katarak diangkat, biasanya saluran itu terbuka lagi, sehingga tekanan bola mata turun. Karena operasi katarak itu kita ganti lensa lama dengan lensa baru yang lebih pipih," jelasnya.

Apakah diabetes selalu berhubungan dengan glaukoma?

Jawabannya mitos sebagian. Pertanyaan ini mengaku banyak ditemui dr. Zeiras, terutama apabila pasiennya enggan menerima diagnosis glaukoma, karena merasa aman dari ancaman diabetes.

"Mereka bilang 'saya kan tidak punya diabetes, dok, ana mungkin kena glaukoma'. Memang tidak salah kalau diabetes itu faktor risiko. Tapi bukan berarti glaukoma itu pasti ada diabetes, atau sebaliknya. Justru mayoritas lebih banyak faktor genetik," tegasnya. 

Apakah penglihatan bisa kembali seperti semula dengan cara operasi?

Jawabannya operasi bertujuan mengontrol tekanan bola mata dan agar penglihatan pasien tidak semakin memburuk dan akhirnya kebutaan permanen.

"Makanya yang sudah operasi banyak juga yang tanya, kok, masih buram, tidak terang, dan sebagainya. Ya, memang operasi tidak bisa memperbaiki saraf yang sudah rusak, tapi setidaknya tekanan bola mata membaik dan tidak semakin parah," katanya. 

Apakah setelah laser atau operasi di satu mata, sudah benar-benar beres dan tidak perlu kontrol lagi? Apakah mata lainnya pasti aman?

Jawabannya mitos, sebab ada beberapa jenis yang masih perlu kontrol dan pasien pengidap glaukoma di satu mata akan punya punya risiko 50% terjadi lagi pada mata kedua.

"Memang ada beberapa yang langsung beres, seperti kalau jenis yang disebabkan katarak. Jadi setelah katarak diangkat, biasanya sudah aman. Tapi mayoritas jenis lain, tetap harus kontrol dan butuh terapi," tutupnya.

Posting Komentar untuk "Mitos dan fakta glaukoma pemicu kebutaan tanpa gejala, waspada usia 40 tahun"