Daftar pemain AS Roma sukses cetak 60 gol di Liga Italia, cek Dzeko-Pellegrini-El Shaarawy
Menakar Jejak Gol dan Masa Depan AS Roma: Analisis 6 Pemain Pencetak 60 Gol & Dinamika Kontrak Terbaru
GOHANS NEWS - Dalam
dunia sepak bola modern, mencapai angka 60 gol untuk satu klub ibarat membangun
fondasi sebuah mahakarya gedung pencakar langit. Dibutuhkan konsistensi, daya
tahan fisik, dan yang paling penting, dedikasi psikologis yang tak lekang oleh
waktu. Bagi klub ibu kota Italia, AS Roma, mencetak sejarah adalah makanan
sehari-hari. Namun, menembus angka magis 60 gol berseragam I Lupi
(Serigala Roma) adalah sebuah pencapaian eksklusif yang hanya sanggup diraih
oleh segelintir pemain elit.
Kabar
terbaru dari pentas kompetisi Eropa memunculkan satu nama segar dalam daftar
prestisius ini. Lorenzo Pellegrini baru saja mengukuhkan dirinya sebagai pemain
ke-18 dalam sejarah panjang klub yang berhasil menyentuh tonggak 60 gol.
Melalui sebuah gol krusial dari jarak dekat—yang sukses memaksakan hasil imbang
bagi Roma melawan Bologna di leg pertama babak 16 besar Liga Europa—Pellegrini
kembali menegaskan statusnya sebagai metronom dan ruh permainan tim.
Melalui pendekatan yang lebih analitis dan mengalir, mari kita bedah enam pemain AS Roma terakhir yang berhasil menembus raihan 60 gol. Kita akan membedah seberapa efisien mereka di atas lapangan hijau menggunakan analogi sederhana agar mudah dipahami, serta menutupnya dengan kabar terkini seputar langkah taktis manajemen Giallorossi dalam memperbarui kontrak para pemain pilar.
6 Pemain Modern AS Roma yang Sukses Mencapai 60 Gol
Berikut
adalah ulasan mendalam mengenai enam pemain terakhir yang berhasil menorehkan
tinta emas tersebut, diurutkan berdasarkan figur yang paling baru mencapainya.
1. Lorenzo Pellegrini (344 Pertandingan)
Analogi: Mesin diesel bertenaga
tinggi; butuh proses pemanasan di awal, namun melaju sangat konstan dan sulit
dihentikan ketika sudah mencapai suhu ideal.
Lorenzo
Pellegrini adalah representasi sejati dari sebuah proses kematangan. Setelah
kembali dari masa peminjaman untuk mengasah diri selama dua musim di Sassuolo
pada tahun 2017, ia mencetak gol senior perdananya melalui sundulan mematikan
ke gawang SPAL di bulan Desember. Pada awalnya, kurva golnya berjalan cukup
lambat. Layaknya mesin diesel, Pellegrini membutuhkan hingga 121 pertandingan
untuk sekadar menggenapkan 10 gol pertamanya bersama Roma.
Namun,
begitu ia mulai dipercaya untuk mengisi peran naturalnya sebagai gelandang
serang dengan kebebasan ruang, produktivitasnya meledak. Ia hanya butuh 29 laga
tambahan untuk menembus 20 gol, dan 29 laga berikutnya untuk menyentuh 30 gol.
Pellegrini berhasil beradaptasi dengan transisi pergantian era; ia sukses
mencetak gol digit ganda secara konsisten di bawah asuhan Paulo Fonseca, Jose
Mourinho, dan Daniele De Rossi.
Kini, di
bawah komando taktis yang revolusioner dari pelatih Gian Piero Gasperini di
musim 2025-2026, Pellegrini merayakan gol ke-60 miliknya. Sebagai catatan
statistik, dari 60 gol tersebut, 14 di antaranya lahir dari titik putih penalti
dan 4 lewat eksekusi tendangan bebas langsung. Meski angka produktivitasnya
belakangan sedikit menurun secara persentase, perannya sebagai sutradara
serangan tetap absolut.
2. Stephan El Shaarawy (245 Pertandingan)
Analogi: Pisau lipat Swiss—elegan,
efisien, serbaguna, dan selalu siap memberikan solusi paling tajam di
momen-momen darurat.
Seringkali
kita menemukan narasi di media sosial yang mengenang kemunculan El Shaarawy di
AC Milan sebagai kisah "wonderkid" yang potensinya tak pernah mekar
sempurna. Dari kacamata statistik, pandangan tersebut sangat bias jika kita
melihat rekam jejaknya bersama AS Roma.
Didatangkan
dengan status pinjaman pada bursa transfer Januari 2016, "Sang Firaun
Kecil" langsung menyengat hebat dengan torehan 8 gol hanya dari 18
penampilan awal, yang membuat manajemen tanpa ragu mempermanenkannya. Ia
membuktikan kapasitasnya dengan menambah 32 gol dalam tiga musim beruntun
sebelum sempat berkelana sebentar ke liga Tiongkok bersama Shanghai Shenhua.
Sejak
kepulangannya pada awal tahun 2021, perannya berevolusi. Ia tak lagi selalu
menjadi starter, namun menjelma menjadi supersub yang membunuh
lawan dalam keheningan. El Shaarawy menyumbang 25 gol penting tambahan, dan
puncaknya terjadi pada November 2023. Di penampilan ke-245, gol di menit-menit
krusial melawan Udinese tidak hanya memberi kemenangan bagi tim, tetapi juga
menggenapkan koleksi 60 golnya.
3. Daniele De Rossi (583 Pertandingan)
Analogi: Fondasi baja pada gedung
pencakar langit. Meski tugas utamanya adalah menahan beban dan menopang
struktur bangunan, kekuatannya secara diam-diam sanggup meruntuhkan pertahanan
lawan.
Sebagai
seorang gelandang bertahan sejati, tugas utama De Rossi bukanlah mencatatkan
nama di papan skor, melainkan memutus rantai serangan lawan dan menyeimbangkan
transisi. Namun, posisinya sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak
kedua dalam sejarah Roma (total 616 laga) membuktikan bahwa loyalitas
memberinya banyak kesempatan untuk mencetak angka.
Total 63
gol yang ia ciptakan adalah rasio yang sangat impresif untuk ukuran gelandang
jangkar. Rentang waktu golnya pun terbilang mencengangkan: membentang nyaris 16
tahun antara gol perdana dan gol terakhirnya. Gol ke-60 bersejarah itu ia
ciptakan pada Maret 2018 ke gawang Torino, tepat di musim perdananya mengenakan
ban kapten secara permanen.
Musim
paling produktif bagi gelandang tersubur dalam sejarah Timnas Italia ini
terjadi pada musim 2009-2010. Kala itu ia menorehkan 11 gol di bawah
kepemimpinan Luciano Spalletti dan Claudio Ranieri—sosok yang secara unik juga
kembali menjadi pelatih terakhirnya pasca-reuni di tahun 2019.
4. Edin Dzeko (109 Pertandingan)
Analogi: Kereta peluru (Shinkansen).
Membutuhkan presisi saat diberangkatkan, tetapi begitu menemukan jalurnya,
kecepatannya menuju garis finis tidak tertandingi.
Sangat
sedikit pandit yang berani bertaruh bahwa Dzeko akan mencapai 60 gol, apalagi
menembus ratusan gol, setelah melihat musim debutnya yang terbilang lambat
(hanya mencetak gol belasan). Kecepatannya mencapai raihan 60 gol hanya dalam
waktu 109 laga adalah sebuah anomali performa yang sangat langka.
Mantan striker
Manchester City ini membalikkan setiap keraguan dengan cara yang spektakuler.
Memasuki musim 2016-2017, ia menemukan ritme mematikannya dan mencetak 39 gol
dalam satu musim di bawah bimbingan Luciano Spalletti—salah satu rekor pencetak
gol terbaik yang pernah dimiliki pemain Roma modern.
Insting
predatornya berlanjut dan menjadi fondasi utama Roma dalam menembus semifinal
Liga Champions musim 2017-2018 di bawah asuhan Eusebio Di Francesco. Ironisnya,
gol ke-60 ia ciptakan bahkan sebelum babak gugur Liga Champions dimulai. Dzeko
akhirnya menutup babnya di ibu kota dengan warisan megah: 119 gol dari 260
penampilan.
5. Mirko Vucinic (184 Pertandingan)
Analogi: Seniman lapangan hijau yang
eksentrik. Terkadang butuh waktu untuk mencampur warna yang tepat, tetapi hasil
akhirnya selalu berupa lukisan yang memanjakan mata.
Mirko
Vucinic adalah contoh klasik dari bakat yang menuntut kesabaran adaptasi. Di
musim debutnya pada 2006-2007, ia hanya mampu menjaringkan tiga gol, sebuah
angka yang wajar mengingat ia kerap dimainkan melebar dan bukan sebagai
penyerang tengah murni.
Namun,
seiring waktu berjalan, pemain asal Montenegro ini mulai menemukan kenyamanan.
Ia kemudian secara konsisten mencetak gol di angka dua digit selama empat musim
berturut-turut. Titik didihnya terjadi pada musim 2009-2010 dengan torehan 19
gol. Fakta menariknya, ia bahkan menjadi top skor klub semusim sebelumnya
(2008-2009) dengan 17 gol, melampaui raihan Pangeran Roma saat itu, Francesco
Totti.
Vucinic
mencapai tonggak 60 gol pada Januari 2011 di babak perempat final Coppa Italia.
Uniknya, gol tersebut dicetak saat melawan Juventus—klub raksasa yang pada
akhirnya merekrutnya beberapa bulan berselang. Ia mengakhiri kariernya di Roma
dengan catatan statistik 64 gol dari 202 pertandingan.
6. Vincenzo Montella (138 Pertandingan)
Analogi: Pesawat jet tempur berukuran
mini yang sanggup bermanuver lincah, menyelinap, dan meledakkan target langsung
di bawah pengawasan radar bek lawan yang bertubuh raksasa.
Mendapat
julukan L'Aeroplanino (Sang Pesawat Terbang Kecil), Montella sama sekali
tidak masuk ke dalam profil target man jangkung nan fisik yang
diidam-idamkan pelatih Fabio Capello pada tahun 1999. Inilah alasan mengapa
Roma sampai harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli Gabriel Batistuta
pada tahun berikutnya.
Akan tetapi,
Montella membuktikan bahwa kecerdasan ruang jauh lebih mematikan ketimbang
sekadar ukuran otot. Ia tampil trengginas dengan mencetak 21 gol di musim
pertamanya, menjadikannya pemain pertama sejak 1928 yang sanggup menembus 20
gol di musim debut bersama Roma. Rekor debutan ini baru bisa disamai lagi oleh
Batistuta, Tammy Abraham, dan Romelu Lukaku puluhan tahun kemudian.
Kecerdasannya membawa Roma meraih Scudetto musim berikutnya lewat sumbangan 13 gol di Serie A, serta memori ikonik mencetak quattrick (4 gol) dalam laga derby panas melawan Lazio. Montella melesakkan gol ke-60 nya untuk Roma di musim keempatnya kala berhadapan dengan Udinese. Meski Roma nyaris terdegradasi pada musim kelam 2004-2005 (berganti pelatih empat kali), lesakan 23 gol Montella menjadi pelampung penyelamat yang mempertahankan Giallorossi di kasta tertinggi. Ia resmi menjadi pemain keenam dalam sejarah klub yang menembus 100 gol pada November 2006.
Analisis Masa Depan: Pembaruan Kontrak di Era Gian Piero Gasperini
Setelah
menyelami masa lalu para pencetak gol historis klub, kita wajib melihat
realitas masa kini di ruang direksi direksi. Sepak bola bukan sekadar mencetak
angka di atas lapangan, melainkan menyeimbangkan visi teknis dengan kalkulasi
beban finansial.
Saat ini,
AS Roma tengah berupaya merestrukturisasi manajemen keuangan dengan niat
menurunkan beban pengeluaran gaji secara keseluruhan. Namun, efisiensi ini
tidak akan memakan korban bagi Gianluca Mancini dan Bryan Cristante. Manajemen
merencanakan pengecualian strategis dengan segera memperpanjang kontrak kedua
pemain vital ini yang sejatinya baru akan berakhir pada 2027. Kesepakatan
prinsip telah tercapai, dan hanya menunggu ketuk palu persetujuan pemilik dari
The Friedkin Group.
Mengapa
mereka dipertahankan secara khusus?
- Keunggulan Taktikal: Mancini (didatangkan
senilai €24 juta pada 2020) dan Cristante (senilai €30 juta pada 2019)
adalah mantan anak asuh kesayangan Gian Piero Gasperini di Atalanta.
Mereka telah menyerap 100% filosofi pressing dan intensitas khas
sang pelatih, membuat mereka secara natural menjadi perpanjangan tangan
taktik di lapangan.
- Stabilitas Finansial: Keduanya tercatat
mengantongi gaji di kisaran €3 juta per tahun—sebuah angka moderat yang
sangat masuk akal dan tetap berada di bawah radar kewajaran batas gaji
internal Giallorossi.
- Ketahanan Ekstrem: Dalam kultur sepak bola
yang semakin melelahkan, kemampuan Mancini dan Cristante untuk terhindar
dari cedera berulang menjadikan mereka aset yang tidak ternilai.
Titik Terang Cedera Dybala dan Negosiasi Kapten
Situasi
berbeda dialami oleh lini serang. Negosiasi perpanjangan kerja sama dengan sang
kapten, Lorenzo Pellegrini, kabarnya masih berjalan dinamis dan belum menemukan
titik temu akhir. Di sisi lain, masa depan sang maestro Argentina, Paulo
Dybala, mulai diselimuti tanda tanya besar. Ia secara klinis baru saja
menjalani prosedur operasi bedah lutut demi mengangkat robekan meniskus setelah
merasakan nyeri yang persisten selama sebulan ke belakang.
Merespons
rumor ini, Direktur Olahraga AS Roma, Frederic Massara, memberikan pernyataan
transparan kepada media sebelum pertandingan kontra Genoa bergemuruh:
"Cedera
klinis yang dialaminya sama sekali tidak akan mendistorsi strategi dasar dan
hubungan baik kami dengannya. Secara teknis, kami memang belum menyinggung
persoalan kontrak kerja sama barunya. Sangat tidak elok membahas urusan
kontraktual saat ia tengah berjuang untuk kembali bugar."
Dari kacamata analitis, andaikan Dybala menolak hengkang dan memutuskan bertahan, peran rotasi akan jauh lebih ideal baginya ketimbang memaksakannya turun sebagai pemain starter rutin di setiap kompetisi. Kerentanan ototnya menjadi risiko besar bagi intensitas skema tinggi Gasperini. Namun, kepastian di dunia sepak bola adalah hal yang ilusi hingga sang pemain benar-benar resmi hengkang dari Kota Abadi.

Posting Komentar untuk "Daftar pemain AS Roma sukses cetak 60 gol di Liga Italia, cek Dzeko-Pellegrini-El Shaarawy"