Dampak konflik Timur Tengah, pengamat sebut ekonomi Indonesia siaga satu, ini alasannya
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4800995/original/018508300_1713070410-20240414-Demo_Iran-AFP_3.jpg)
Status 'Siaga Satu' Ekonomi Indonesia: Membedah Dampak Konflik Timur Tengah dan Strategi Penyelamatan APBN
GOHANS NEWS, JAKARTA - Beberapa waktu lalu, jagat publik dan media massa sempat
dihebohkan oleh penggunaan diksi "Siaga
Satu" oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto terkait kondisi
Indonesia. Frasa yang identik dengan kondisi darurat militer tingkat tinggi ini
memicu polemik mengenai urgensinya, hingga akhirnya direvisi menjadi
"Kesiapsiagaan".
Namun, jika kita melepaskan kacamata militer dan beralih
menggunakan teropong ekonomi makro, diksi "Siaga Satu" sejatinya
sangat relevan dan mendesak untuk disematkan pada kondisi perekonomian nasional saat ini.
Menurut Zenzia Sianica Ihza, seorang pemerhati hubungan
internasional dan investasi, alarm bahaya yang sesungguhnya bukan datang dari
ancaman invasi fisik, melainkan dari eskalasi geopolitik di Timur
Tengah—khususnya potensi konflik terbuka yang berkepanjangan antara Amerika
Serikat, Israel, dan Iran.
Lantas, mengapa letusan rudal yang berjarak ribuan
kilometer dari Jakarta bisa membuat kas negara (APBN) kita berdarah-darah? Mari
kita bedah anatomi krisis ini secara analitis, langkah demi langkah.
Efek Kupu-Kupu (Butterfly Effect) Timur Tengah: Selat Hormuz sebagai Urat Nadi Dunia
Dalam teori chaos, ada istilah Butterfly Effect, di mana kepakan sayap kupu-kupu di
satu benua bisa memicu badai tornado di benua lain. Dalam konteks ini,
"kepakan sayap" tersebut adalah memanasnya tensi di Selat Hormuz.
"Salah satu skenario yang paling ditakuti pasar
global dan sudah dilakukan Iran adalah penutupan Selat Hormuz," papar
Zenzia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Untuk memudahkan pemahaman, bayangkan Selat Hormuz sebagai jalan tol utama
satu-satunya yang menghubungkan kilang minyak raksasa ke seluruh dunia.
Meskipun selat ini sempit, sekitar 20 persen suplai minyak mentah global setiap
harinya harus melewati jalur ini. Jika "jalan tol" ini diblokir
akibat perang, distribusi energi dunia otomatis lumpuh.
Dampaknya? Hukum ekonomi dasar (Supply and Demand) langsung
bekerja. Pasokan langka, sementara permintaan tetap tinggi. Akibatnya, pasar energi
global panik dan merespons dengan lonjakan harga minyak mentah secara
gila-gilaan, bahkan sempat menyentuh angka 115 dolar AS per barel—sebuah rekor tertinggi sejak
tahun 2020.
Hitung-hitungan Sederhana: Mengapa APBN Kita Tercekik?
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia ini
bukanlah sekadar berita luar negeri yang bisa diabaikan. Ini adalah sinyal Siaga Satu bagi stabilitas
fiskal kita. Mengapa demikian?
Mari kita lihat data Asumsi Makro APBN 2026. Pemerintah
mematok harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada kisaran 70 dolar AS per barel. Ketika
harga minyak dunia meroket ke angka 100 dolar AS hingga 115 dolar AS, terdapat
selisih (gap) sebesar 30 hingga 45 dolar AS per barel dari asumsi awal.
Sebagai ilustrasi:
·
Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel dari asumsi APBN, defisit negara
diperkirakan membengkak sekitar Rp6,8 triliun.
·
Jika harga minyak stabil di atas 100 dolar AS
(selisih 30 dolar AS dari asumsi), maka potensi tambahan beban fiskal yang
harus ditanggung negara bisa mencapai Rp204 triliun!
Ratusan triliun ini adalah uang yang harus
"dibakar" pemerintah untuk menambal subsidi energi, demi memastikan
harga Pertalite, Solar, dan LPG 3 Kg tidak naik dan mencekik masyarakat. Ini
menempatkan pemerintah pada buah simalakama: Menyelamatkan kas negara (APBN) yang makin defisit, atau
menyelamatkan dompet rakyat kecil dengan mempertahankan subsidi?
Hantu Inflasi dan Ancaman "Stagflasi": Bahaya Laten bagi Kelas Menengah
Ketika harga minyak dibiarkan naik (subsidi dicabut),
efek dominonya akan sangat destruktif. Energi adalah "darah" bagi
perekonomian.
Bayangkan sebuah pabrik tempe. Jika harga bahan bakar
naik, biaya truk pengangkut kedelai dari pelabuhan ke pabrik akan naik. Biaya
operasional mesin pabrik naik. Truk yang mengantar tempe ke pasar juga
menaikkan tarif. Ujung-ujungnya, harga tempe di tangan ibu rumah tangga ikut
melonjak.
Inflasi energi dengan sangat cepat akan merembet
menjadi inflasi pangan dan
kebutuhan pokok lainnya. Zenzia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki rekam
jejak yang pahit terkait hal ini. Setiap kali harga energi naik, kelompok kelas
menengah ke bawah adalah pihak yang paling pertama terpukul daya belinya.
Kondisi terburuk yang bisa terjadi jika konflik Timur
Tengah ini berkepanjangan adalah Stagflasi.
Bagi orang awam, stagflasi bisa diibaratkan seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus
bertambah, sementara napas kita mulai habis. Harga barang-barang terus
meroket tinggi (inflasi), namun di saat yang sama lapangan pekerjaan sulit
dicari, gaji tidak naik, dan pertumbuhan ekonomi melambat (stagnan). Ini adalah
mimpi buruk bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia.
4 Langkah Darurat (Emergency Response): Penawar Badai Geopolitik
Menghadapi status "Siaga Satu" ekonomi ini,
mode autopilot tidak lagi bisa diandalkan. Diperlukan kemudi manual dengan
keputusan-keputusan yang berani. Zenzia mengusulkan empat pilar langkah darurat
yang saling berkesinambungan:
1. "Diet Ketat" APBN: Pangkas Anggaran Seremonial
Langkah pertama adalah efisiensi ekstrem. Pemerintah
harus melakukan "diet ketat" dengan memangkas "lemak-lemak"
APBN berupa belanja seremonial, rapat-rapat di hotel, perjalanan dinas yang
tidak esensial, atau proyek yang tidak memiliki Return of Investment (ROI) jelas bagi rakyat.
Anggaran harus difokuskan 100% pada otot perekonomian:
perlindungan sosial (Bansos), kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.
Efisiensi ini bukan sekadar pelit, melainkan strategi bertahan hidup (survival mode) agar defisit
negara tidak menembus batas psikologis yang membahayakan.
2. "Vaksinasi Ekonomi": Akselerasi Transisi Energi Terbarukan
Ketergantungan kita pada energi fosil impor adalah
penyakit kronis ekonomi Indonesia. Krisis ini harus dijadikan momentum untuk
menyuntikkan "vaksin kekebalan" berupa percepatan energi baru
terbarukan (EBT).
Indonesia dikaruniai sinar matahari sepanjang tahun dan
ribuan sungai. Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap untuk
rumah tangga/industri, serta Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), harus
dideregulasi agar lebih masif. Semakin kita mandiri secara energi, semakin
kebal kita terhadap gonjang-ganjing harga minyak dunia.
3. Menjadikan UMKM Sebagai Bantalan (Shock Absorber) Perekonomian
Jika ekonomi global sedang sakit, ekonomi domestik
harus sehat. Siapa tulang punggung domestik kita? UMKM. Sektor ini menyerap 97%
tenaga kerja nasional.
Pemerintah harus memberikan stimulus
"vitamin" yang tepat sasaran, seperti kemudahan perizinan tanpa
birokrasi berbelit, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga super rendah,
dan fasilitasi digitalisasi. Sejarah membuktikan (baik pada krisis 1998 maupun
pandemi COVID-19), ekonomi akar rumput inilah yang menjadi penyelamat dan bantalan
pelindung (shock absorber)
dari kehancuran ekonomi nasional.
4. Evaluasi Perjanjian Dagang: Jangan Mau Menjadi Pihak yang Merugi
Langkah terakhir yang tak kalah krusial adalah meninjau
ulang komitmen perdagangan internasional yang justru membebani negara, salah
satunya Agreement on Reciprocal
Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Berdasarkan fakta hukum, kebijakan tarif era Donald
Trump yang menjadi dasar perundingan ART telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung
AS pada 20 Februari 2020. “Jika dasar hukumnya sudah gugur, untuk apa kita
tetap terikat pada kesepakatan tersebut? Memaksakan ART di tengah krisis energi
global hanya akan menambah beban fiskal negara yang sudah megap-megap,” tegas
Zenzia.
Mengubah Krisis Menjadi Momentum Kedewasaan Ekonomi
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memang sebuah
variabel eksternal yang di luar kendali pemerintah Indonesia. Kita tidak bisa
menghentikan rudal yang beterbangan. Namun, kita memiliki kendali penuh atas bagaimana merespons
dampaknya di dalam negeri.
Indikator sukses tertinggi dari pemerintah dalam
mengatasi krisis ini bukanlah sekadar angka-angka di atas kertas, melainkan terjaganya daya beli masyarakat.
Selama masyarakat masih mampu membeli kebutuhan pokok, daya beli terjaga, maka
roda ekonomi domestik akan terus berputar dan fondasi ekonomi kita akan tetap
kokoh.
Status "Siaga Satu" bukan berarti kita harus panik. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk merapatkan barisan, melakukan efisiensi cerdas, dan merombak struktur ekonomi kita agar jauh lebih mandiri, tangguh, dan tidak lagi mudah "masuk angin" hanya karena kepakan sayap kupu-kupu di belahan dunia lain.
Posting Komentar untuk "Dampak konflik Timur Tengah, pengamat sebut ekonomi Indonesia siaga satu, ini alasannya"