Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bertani di lahan sempit Kota Semarang, petani muda raup omzet jutaan dari hidroponik

Bertani di lahan sempit Kota Semarang, petani muda raup omzet jutaan dari hidroponik

GOHANS MIND, SEMARANG - Profesi petani kini tak lagi identik dengan pekerjaan konvensional di sawah. Di tangan generasi muda, sektor pertanian justru berkembang dengan teknologi dan cara yang lebih modern.

Satu di antaranya dilakukan Ahmad Sidiq (31), petani milenial yang sukses mengembangkan kebun hidroponik di Kota Semarang.

Ahmad merupakan pemilik kebun hidroponik bernama Ahmad Farm yang berlokasi di jalan Pelamongansari V, Kelurahan Pelamongan Sari, Kecamatan Pedurungan. Di atas lahan berukuran 10 x 30 meter, ia membudidayakan sayuran hidroponik dengan fokus pada sawi dan selada.

Tribun Jateng mengunjungi kebun tersebut.

Instalasi hidroponik tersusun rapi memenuhi lahan, dengan lubang-lubang tanam yang dipenuhi sawi dan selada berwarna hijau segar.

Di tepi kebun, Ahmad berdiri sambil menyiapkan media semai. Tangannya teliti menaruh satu per satu biji selada ke dalam lubang kecil pada instalasi semai. Aktivitas itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, bahkan telah menjadi penopang utama kebutuhan keluarga.

Usaha ini mulai ia tekuni sejak tahun 2020. Awalnya, Ahmad tertarik setelah melihat kebun hidroponik milik temannya saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

"Waktu itu saya lihat story teman yang punya menanam secara hidroponik. Kok bagus 'menarik', bisa nanam enggak di tanah, tetapi di talang-talang gitu. Akhirnya saya tanya-tanya, lalu coba bikin sendiri tahun 2020," ujarnya ditemui Tribun Jateng, Minggu (8/3/2026).

Ia memulai usahanya dengan instalasi kecil berkapasitas 400 lubang tanam. Keuntungan yang diperoleh kemudian diputar kembali untuk memperbesar usaha. Secara bertahap, instalasi terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 4.000 lubang tanam.

"Pertama saya buat hanya 400 lubang. Saya jual, ada keuntungan, buat lagi 600 lubang. Terus tahun berikutnya tambah 600 lagi sampai sekarang di 2026 ada total sekitar 4.000 lubang tanam," ujarnya.

Dari kebun tersebut, Ahmad memproduksi sayuran hidroponik yang dijual dalam kemasan dengan berat sekitar 300 hingga 400 gram per pack.

Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 40 hingga 60 pack sayuran. Mayoritas produksi adalah sawi yang paling banyak diminati pasar. Dari total penjualan harian, sekitar 40 pack merupakan sawi dan sisanya selada.

Sayuran tersebut dipasarkan ke beberapa toko sayur retail di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Selain itu, ada pula pembeli yang datang langsung ke kebun setelah melihat tanaman yang ditanam di lokasi yang berada di pinggir jalan.

Harga satu pack sayuran dijual sekitar Rp4.000. Jika dihitung secara rata-rata, Ahmad bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp240.000 per hari atau lebih dari Rp6 juta per bulan.

"Jadi misal Rp240.000 itu dikalikan sebulan  ya bisa (mendapat omzet) Rp6 juta lebih sedikit," tuturnya.

Jumlah tersebut bahkan sudah melampaui Upah Minimum Kota (UMK) di sejumlah daerah, menjadikan usaha hidroponik sebagai sumber penghasilan utama bagi Ahmad.

"Alhamdulillah sejak mulai tahun 2020 selalu ada profit," katanya.

Tak hanya dari penjualan sayuran, Ahmad juga mengaku mendapatkan tambahan penghasilan dari kegiatan lain yang berkaitan dengan hidroponik.

Ia kerap diundang menjadi narasumber sosialisasi pertanian hidroponik oleh berbagai komunitas atau organisasi.

Selain itu, juga melayani pembuatan instalasi hidroponik bagi masyarakat yang ingin memulai usaha serupa.

Kebun miliknya juga sering menjadi lokasi penelitian mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akademik terkait pertanian modern.

Menurutnya, minat anak muda terhadap pertanian hidroponik di Kota Semarang juga mulai meningkat. Ia menyebut dari rekan-rekannya, setidaknya ada lima petani hidroponik.

"Yang seangkatan dengan saya, yang usianya sekarang sekitar 30 tahun, itu ada sekitar 5 orang yang tersebar di Kota Semarang. Ada yang di Lamper, Gunungpati, dan Mijen.

Rata-rata petani hidroponik itu memang masih muda, antara range 30 sampai 35 lah. Teman-temanku banyak yang bergelut di hidroponik," bebernya.

Melihat peluang yang masih terbuka, Ahmad mengaku berencana memperluas kebun hidroponiknya. Jika lahan yang dimilikinya sudah penuh, ia mempertimbangkan untuk menyewa lahan di sekitar lokasi kebun.

"Nanti Insyaallah ingin nambah lagi untuk instalasi pelebaran kebun. Kemungkinan nanti kalau (kebun) pribadi sudah full, bisa nyewa lahan di samping sana atau di tapi yang dekat-dekat kampung sini," ungkapnya mantap.

*Saling Bantu hingga Pasok Langsung Resto All You Can Eat*

Menurut Ahmad, semangat saling membantu menjadi salah satu kunci keberhasilan petani hidroponik di Kota Semarang. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, petani muda ini justru mampu membangun jaringan kerja sama agar pasokan sayuran tetap terjaga.

Satu di antaranya dilakukan Ahmad yang selalu berkoordinasi dengan sesama petani hidroponik. Ketika hasil panennya kurang, ia akan mengambil pasokan dari rekan sesama petani. Begitu pula sebaliknya, ketika ada petani lain membutuhkan tambahan pasokan, mereka saling membantu untuk memenuhi permintaan pasar.

"Kalau ada kekurangan hasil panen, kami saling memasok. Jadi tidak ada yang kekurangan, semua pelanggan tetap kebagian," terang Ahmad.

Satu si antara rekan Ahmad adalah Arif Aditya Nur Pratama (30) yang memiliki kebun hidroponik di kawasan jalan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan. 

Arif termasuk petani hidroponik muda yang berhasil menjadikan usaha ini sebagai pekerjaan utama sekaligus sumber penghasilan.

Dengan sistem tersebut, pemilik kebun hidroponik bernama Sequence itu mampu menyuplai selada segar ke berbagai restoran berkonsep all you can eat, yang membutuhkan pasokan sayuran dalam jumlah besar setiap hari.

Selain restoran, selada juga dikirim ke outlet kebab dan burger yang membutuhkan bahan segar sebagai pelengkap menu mereka.

Permintaan yang tinggi dari sektor kuliner mendorong Arif untuk memaksimalkan produksi dari kebunnya yang luasnya sekitar 100 meter persegi.

Meskipun lahannya terbatas, ia memanfaatkan berbagai sudut rumah, mulai dari teras depan, halaman belakang, hingga rooftop, untuk menanam selada secara hidroponik.

"100 meter persegi di rumah sendiri ya, jadi, terpisah-pisah lahannya. Ada yang di teras depan, halaman belakang, terus di rooftop juga ada. Jadi, terpisah-pisah tiga tempat itu yang lahan sendiri. Kalau yang lahan kebun sama teman mitra ya banyak sih kalau itu," jelasnya.

Dari kebun tersebut, Arif bisa memanen sekitar 300 kilogram selada per bulan dengan omzet rata-rata Rp7,5 juta hanya dari kebun miliknya sendiri.

Menurut Arif, keunggulan hidroponik di perkotaan adalah kesegaran sayurannya yang bisa sampai ke pelanggan hanya dalam waktu tiga jam setelah panen.

Berbeda dengan pasokan dari daerah pegunungan atau desa yang memerlukan perjalanan hingga satu hari, sehingga kesegarannya bisa berkurang.

"Kalau saya, di Kota Semarang ini ada pelanggan minta panen langsung kita kirim. Jadi dari panen sampai kirim ke pelanggan enggak nyampe 3 jam itu masih segar. Kelebihannya itu, makanya potensinya masih besar kalau di daerah perkotaan," ungkapnya.

Menurut Arif, usaha hidroponik ini pun menjadi penghasilan utamanya. Perjalanannya menggeluti usaha hidroponik dimulai secara tidak sengaja pada 2019. Ia menemukan instalasi hidroponik yang belum dirakit di rumah kakeknya, kemudian mencoba merakit dan menanam berbagai sayuran.

Kini, ia memutuskan untuk fokus menekuni hidroponik setelah batal kembali bekerja ke Jepang karena pandemi Covid-19. Sejak saat itu, ia mengembangkan usaha hidroponiknya dan membangun jaringan petani yang saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan sayuran, khususnya selada segar.

"Pastinya tiap petani punya pengalamannya sendiri-sendiri, ada masalahnya sendiri-sendiri. Cuma kalau bisa jangan patah semangat," imbuhnya. (idy)

Posting Komentar untuk "Bertani di lahan sempit Kota Semarang, petani muda raup omzet jutaan dari hidroponik"