Kita pasien gagal ginjal, bukan gagal hidup, perjuangan pasien hemodialisa di Kendari Sultra
"Kita pasien gagal ginjal, bukan gagal hidup," kata Askar (42) seorang pasien hemodialisa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sudah dua tahun terakhir, pria ini berjuang menerima kenyataan harus menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah.
Semangat disebarkannya saat menghadiri perayaan Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day 2026 di ruang unit Hemodialisa RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara.
Acara tersebut digelar pada Kamis (12/3/2026) dihadiri Askar dan pasien lainnya serta pendamping atau keluarga terkait. Dalam sesi diskusi, dua dokter spesialis, dr Tety Yuniarty Sudiro, Sp PD dan dr Dedy Kusnadi, Sp PD-KGH, yang menangani ribuan pasien gagal ginjal kronik di RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara memberikan edukasi langsung pada pasien dan pendamping.
Askar mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman usai sesi pemparan materi dari dr Tety dan dr Dedy.
Sejak awal divonis gagal ginjal kronik, Askar tak langsung menerima begitu saja.
Ia membutuhkan proses untuk bisa memahami kondisi tubuhnya yang sudah tak normal seperti biasa. Ia berdiam diri dan mengevaluasi diri.
Sampai akhrinya menerima kenyataan harus menjalani proses cuci darah.
Masih teringat jelas, saat pertama kali menjalani terapi di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar pada tahun 2024 silam.
Tepatnya pada bulan Mei, ia pun akhirnya bersedia untuk berjuang dengan mesin cuci darah pasien gagal ginjal kronik.
"Saya mulai mengevaluasi diri, saya sebagai pasien normal, dalam arti kondisi fisik saya masih bisa beraktivitas seperti orang normal. Saya kerja, saya temani istri, saya beribadah. Dan saya terima keadaan ini, soal ajal itu sudah ditakdirkan. Itu yang saya pahami," jelas pria yang tergabung dengan Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) Sultra ini.
Baginya, penerimaan dengan ikhlas adalah hal terpenting untuk bisa berdamai dengan diri sendiri.
"Karena tanpa berdamai dengan diri kita sendiri, maka hidup ini akan selalu kita mengeluh. Bukan main hidup kita cuci darah ini," jelasnya.
Meski banyak yang harus direlakannya, jabatan hingga aktivitas padat tak seperti dulu lagi.
Kata-katanya menjadi sebuah kalimat perjuangan, ikhtiar, dan harapan. Bukan tanpa sebab, baginya seorang penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi cuci darah merupakan perjalanan tak mudah. Penerimaan, proses dan ikhlas harus bersatu menghadapi penyakit ini.
Apalagi dengan banyaknya stigma masyarakat terhadap pasien cuci darah, membuat Askar pun bertekad menunjukkan bahwa meski dalam keterbatasan, mereka punya harapan besar untuk hidup dan bisa beraktivitas layaknya orang sehat pada umumnya.
"Kadang orang mengasihani kita, menganggap ajal kita semakin dekat. Namun kita perlu sadari bahwa, kita ini pasien gagal ginjal bukan gagal hidup. Kita masih bersyukur kita menjadi pasien dalam kondisi normal, dalam artian masih bisa beraktivitas seperti biasa," jelasnya.
Menanggapi cerita Askar, dr Dedy Kusnadi menyebut setiap pasien adalah gurunya. Termasuk sosok Askar. Sebagai seorang dokter yang menangani banyak pasien, ia mengungkapkan tak hanya mengobati penyakit yang diderita, namun juga hatinya.
"Kami menyadari bahwa tugas kami sebagai dokter itu, bukan saja mengobati penyakit pasien, tapi juga hatinya. Sehingga saya banyak belajar untuk menata menangani pasien-pasien ginjal kronik," kata dr Dedy.
Sejalan dengan yang disampaikan Askar, Sekretaris KPCDI Sultra, H Imam Al-Ghizali (56) saat ditemui di ruang hemodialisa RSUD Bahteramas Sultra mengungkapkan bahwa pada dasarnya setiap pasien memilik kisah dan cerita perjuangannya masin-masing.
"Itulah yang dirasakan oleh anggota kami, jadi apa yang dipertanyakan oleh anggota kami tak terlepas dari apa yang mereka rasakan. Semua pasien HD hal-hal itu, dan itu lazim. Tapi perlu diingat setiap pasien memiliki dramanya masing-masing, kendalanya masing-masing," jelasnya.
Imam juga menyebut bahwa KPCDI Sultra, memfasilitasi ratusan pasien se-Sulawesi Tenggara bertukar informasi melalui grup WhatsApp. Di sanalah, para pasien kompak saling mendukung dan bertukar informasi terkait hal-hal yang boleh maupun tidak boleh dilakukan pasien yang menjalani terapi cuci darah.
"Kami ada grup WhatsApp, untuk seluruh pasien cuci darah se Sulawesi Tenggara. Itu tempatnya kami saling memberikan dukungan, supaya menjalani kehidupan ini dengan ikhlas, bisa menerima kondisi. Media itu sangat bemanfaat Di situ juga banyak pertanyaan, khususnya pasien-pasien baru. Mulai dari makanan, minuman, yang boleh dikonsumsi oleh pasien HD,"
KPCDI Sultra ini membawahi sejumlah unit hemodilisa di Sulawesi Tenggara. Imam Al-Ghazali berharap semakin banyaknya unit hemodialisa yang tersedia di suatu wilayah, maka bisa memudahkan para pasien menjalani cuci darah dan bisa membentuk KPCDI.
"Saya berharap dari Wakatobi, Buton Utara, Buton Raya juga bisa (bentuk KPCDI) jika sudah tersedia lima unit (hemodialisa)," tuturnya.
Harapan KPCDI Sultra di Hari Ginjal Sedunia
Imam Al-Ghazali juga mengungkapkan bahwa refleksi perayaan Hari Ginjal Sedunia 2026 ke-20 ini memiliki banyak harapan untuknya dan para pasien lainnya.
Di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang memanas, ada kekhawatiran soal terganggungnya ketersediaan Bahan Habis Pakai (BHP) hemodialisis produk impor yang sering digunakan para pasien.
Menurut Imam, ada dua merek dagang yang digunakan saat menjalani cuci darah.
"Jadi dengan geopolitik (Timur Tengah) apalagi ditutupnya Selat Hormuz, kita ada kekhawatiran, apakah stok BHP bisa terpenuhi dan tidak terganggu," jelasnya.
Konflik di Timur Tengah dikhawatirkan mengganggu pasokan bahan baku industri ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Importir bahan baku penolong (seperti bahan kimia industri) waspada terhadap potensi lonjakan biaya logistik dan penurunan pasokan akibat ketegangan di jalur pelayaran utama.
Perayaan Hari Ginjal Sedunia di Hemodialisa RSUD Bahteramas
Momentum Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day 2026 dirayakan dengan penuh semangat para dokter hingga pasien di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kota Kendari, Selasa (12/3/2026).
Perayaan yang berlangsung sederhana dan informatif tersebut, digelar di dalam ruangan hemodialisa atau tempat cuci darah para pasien hemodialisis.
Pasien hemodialisis atau dikenal dengan sebutun pasien HD adalah penderita gagal ginjal akut atau kronis (stadium 5) yang ginjalnya tidak lagi berfungsi optimal.
Sehingga, harus melakukan terapi cuci darah rutin dengan mesin dialyzer untuk menyaring sisa metabolisme, racun, dan cairan berlebih dari darah.
Tak hanya para pasien, namun juga para pendamping pasien turut hadir menyemarakkan acara tersebut.
Setiap tahunnya, tim ruang unit hemodialisa RSUD Bahteramas turut merayakan World Kidney Day 2026 ini.
Para pasien diberikan informasi terbaru tentang kesadaran menjaga kesehatan ginjal dari dokter-dokter ahli khususnya spesialis penyakit dalam hingga sub spesialis ginjal hipertensi.
Acara ini dibuka langsung Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, dr Andi Edy Surahmat, M.Kes.
dr Andi Edy juga sempat menyapa para pasien yang sedang menjalani proses hemodialisis di ruang tersebut. Bak napak tilas dengan tugas sebelumnya sebagai dokter yang memantau kondisi pasien hemodialisis menjalani terapi sebelum akhirnya ia menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sultra pada Januari 2026 lalu.
Pada kesempatan tersebut dr Andi Edy mengungkapkan bahwa peringatan Hari Ginjal Sedunia ini menjadi momentum pemberian edukasi untuk para pasien dan pendampingnya. Karena dua dokter spesialis dari RSUD Bahteramas akan memberikan pemaparan langsung terkait permasalahan ginjal ini.
Mereka adalah dr Tety Yuniarty Sudiro, Sp PD dan dr Dedy Kusnadi, Sp PD-KGH.
"Acara ini memang sangat bermanfaat bagi pasien, apalagi dibawakan langsung oleh narasumber langsung dari ahlinya, dr Dedy dan dr Tety. Mereka memahami betul bagaimana caranya pasien yang selama ini dirawat menuju ke arah yang lebih baik," tutur dr Andi Edy.
Kedepannya, dokter yang pernah bertugas di ruang hemodialisa RSUD Bahteramas ini mengatakan kedepannya pihaknya akan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya bagi para pasien gagal ginjal kronik.
Ia pun menekankan, proses pencegahan penyakit gagal ginjal juga adalah hal krusial.
"Nantinya kami akan berkoordinasi dengan teman-teman yang bergelut dengan permasalahan ginjal. Apa yang bisa kami berikan dan apa yang bisa kami bantu. Termasuk persoalan pencegahan juga yang sangat penting, sebelum seseorang divonis gagal ginjal," tuturnya saat diwawancarai GOHANS MIND, usai membuka acara tersebut.
Materi pertama diberikan dr Tety yang menjelaskan secara umum terkait penyanyi gagal ginjal kronik ini.
"Faktanya adalah jutaan orang menderita penyakit gagal ginjal, itulah sebabnya World Kidney Day ini dirayakan sebagai pengingat terkait bahayanya penyakit ini," kata dr Tety saat membuka sesi diskusi.
Ia menyinggung soal hipertensi salah satu risiko paling sering menjadi penyebab terjadinya penyakit gagal ginjal, namun jarang disadari.
"Penderita kadang-kadang tidak menyadari hipertensi itu 'silent killer'. Padahal harus dipahami, ketika seseorang sudah mengalami hipertensi, obat tetap terkontrol dan diminum teratur. Jangan merasa saat kondisi darah turun, obatnya tak diminum. Nah ini, biasanya yang menjadi penyebab terjadinya gagal ginjal bahkan tahap akhir," tutur Kepala Kelompok Staf Medis (KSM) RSUD Bahteramas.
Sejalan dengan hal tersebut, dr Dedy pun mengungkapkan pasien harus mengontrol kondisi hipertensi agar selalu menjaga kesehatan ginjal.
"Paling banyak histologi ginjal kronik adalah hipertensi. Dan hipertensi ini, ibaratnya pembunuh yang tidak kelihatan. Tapi dia menggerogoti bagian kecil dari ginjal kita jadi tetap kontrol tekanan darah kita. Makan sehat dan jaga berat badan. Minum air yang cukup," jelasnya.
Proses diskusi berlangsung lancar. Para pasien hingga keluarga pasien begitu antusias memberikan pertanyaan dan berbagi pengalaman.
Upaya Pengurangan Limbah Plastik Hemodialisa
Untuk tahun ini, World Kidney Day 2026 mengusung tema Caring for People, Protecting the Planet atau Kesehatan Ginjal untuk Semua: Merawat Manusia, Melindungi Planet. Tema ini menyoroti hubungan antara kesehatan ginjal, akses pelayanan, dan kelestarian lingkungan.
Sehingga menurut dr Dedy, hal utama yang sangat diperhatikan adalah bagaimana upaya pencegahan dilakukan agar seseorang tak menderita penyakit gagal ginjal. Pasalnya,
"Selain melakukan tata laksana pada pasien-pasien penyakit ginjal yang menjalani hemodialisis, kita ingin juga berperan menjaga planet kita. Begitu pula sebaliknya dengan menjaga lingkungan dapat mencegah penyakit ginjal kronik pada pasien di seluruh dunia," jelas Kepala Unit Hemodialisa RSUD Bahteramas Sultra ini.
Ia menyadari proses hemodialisa atau cuci darah yang berlangsung dampaknya menghasilkan limbah sampah plastik. Khusus di RSUD Bahteramas Sultra, limbah medis yang dihasilkan bisa mencapai 8 kilogram untuk satu sesi hemodialisa.
"Jadi terkait untuk satu sesi limbah plastik yang dihasilkan itu 1,5 kilogram sampai 8 kilogram jumlahnya tentu saja banyak. Langkah yang dilakukan yaitu dengan mencegah tidak bertambahnya lagi pasien hemodialisa. Karena semakin banyak pasien tentu limbah plastik yang dihasilkan juga semakin banyak," tuturnya.
Selain itu, proses evaluasi juga dilakukan untuk bisa melihat kondisi masing-masing pasien. Jika pasien sudah menuju fase yang lebih baik, tak hanya bagus untuk dampak kesehatannya namun juga dampak terhadap lingkungan.
"Sejauh mungkin kita akan lakukan evaluasi hemodialisa sehingga pasien-pasien membutuhkan tiga sesi hemodialisis bisa kita kurangi dua sesi atau bahkan kurang. Itu kita kenal dengan incremental hemodialysis itu disesuaikan dengan keadaan masing-masing individu. Jadi dengan mengurangi jumlah pasien yang menderita penyakit gagal ginjal kronik, dan melakukan evakuasi ketat sesi HD pada pasien-pasien hemodialisis, maka kita berperan dalam rangka mengurangi limbah sampah yang akan digunakan atau dihasilkan dari hemodialisis," tuturnya.
dr Dedy juga menyinggung terkait para pasien yang menggunakan transportasi untuk sampai ke rumah sakit. Hal ini juga yang menyebabkan polusi udara.
Pasien datang ke rumah sakit pasti menggunakan kendaraan yang mengeluarkan emisi gas buang berbahaya dari sisa pembakaran bahan bakar fosil yang keluar melalui knalpot.
"Sehingga, untuk mengurangi polusi, tentu kita harus bisa mencegah semakin bertambahnya lagi pasien gagal ginjal kronik," pungkasnya.(*)
(Desi Triana)
Posting Komentar untuk "Kita pasien gagal ginjal, bukan gagal hidup, perjuangan pasien hemodialisa di Kendari Sultra"