Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jawaharlal Nehru, Bapak Bangsa India yang dari Penjara ke Penjara

Jawaharlal Nehru, bapak bangsa India yang jadi langganan penjara pemerintah kolonial Inggris di British India. Perjuangannya pun berbuah manis.

Artikel ini pertama tayang di Majalah INTISARI edisi Desember 2008 dengan judul "Jawaharlal Nehru, Mutiara Langganan Penjara" | Penulis: Muhammad Sulhi

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Suka cita di wajah pasangan Motilal Nehru-Swarupa Rani tak terbayangkan, ketika 14 November 1889 anak pertama mereka, Jawaharlal Nehru lahir. Dia lahir di Allahabad, sebuah kota yang dibasahi aliran Sungai Gangga, kini di Negara Bagian Uttar Pradesh.

Beruntung bagi Jawaharlal - artinya kira-kira "mutiara" – karena dia langsung mewarisi kehormatan sang bapak yang berasal dari kasta tinggi Brahmana.

Nehru juga mendapati bapaknya aktif di Kongres Nasional India (Indian National Congress - INC) yang didirikan seorang Inggris, Hume pada 1885. Saat Nehru kecil baru bisa mengoek, INC sudah mulai menggurita di seluruh negeri. Namun organisasi yang kelak menjadi mobil politik Nehru itu masih jauh dari jangkauan rakyat kebanyakan. Keanggotaannya masih terbatas untuk orang kaya atau berkasta tinggi.

Atmosfer di keluarga besar Nehru lebih bernuansa Inggris daripada India. Mereka lebih sering cas cis cus menggunakan bahasa Inggris, ketimbang bahasa lokal. Soal pendidikan pun demikian. Di rumah mereka yang dilengkapi dua kolam renang, Motilal bahkan menyediakan homeschooling khusus buat Nehru, dengan tutor orang Inggris dan Skotlandia.

Di usia 15, Nehru yang sudah mempunyai adik perempuan Vijayalakshmi (4 tahun) dikirim ke Inggris, tepatnya ke Harrow. Harrow bukan sekolah sembarangan, murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga aristokrat, dan (setidaknya sampai 1984) sudah menyumbang empat perdana menteri buat Inggris: Pitt, Palmerston, Baldwin, dan Churchill.

Namun kelak, dalam otobiografi Nehru, A Political Biography, Nehru menyebut Harrow rada sinis. "Always I had a feeling that I was not one of them." Tampaknya, semangat anti-semit yang meluas di Eropa saat itu ikut berimbas pada pergaulan Nehru muda. Dia sulit berteman dan dirundung kesepian.

Minat Nehru pada ilmu sejarah dan ilmu alam sangat besar, sama besarnya dengan hobi main catur dan cricket. Namun Motilal ingin Nehru belajar hukum agar dapat meneruskan karier cemerlang sang ayah. Nehru yang sangat menghormati ayahnya, tak kuasa menolak. Tapi dia juga ingin minatnya tak terabaikan. Jadilah dia tetap mendalami ilmu alam (geologi, botani, dan kimia) di Cambridge, baru kemudian mendalami ilmu hukum di London.

Pada 1912, Nehru pulang ke India, memenuhi panggilan firma sang ayah. Di tahun yang sama, Nehru mulai mengikuti jejak ayahnya di bidang politik, bergabung dengan INC.

Bukan politikus paruh waktu

Tahun 1918, ketika perdebatan konsep "India merdeka" makin seru di INC, duo Nehru (Motilal dan Jawaharlal) mulai memainkan kartu truf mereka. Keduanya kebetulan berada di kubu yang sama, menginginkan India terlepas sepenuhnya dari Inggris. Tidak dalam bentuk negara bagian, apalagi negara boneka. Keduanya juga tidak mengharamkan aksi boikot, turun ke jalan, pengerahan massa, dan sejenisnya demi mencapai kemerdekaan.

Agar dapat bekerja full time sebagai politikus, dia rela melepaskan aktivitasnya di firma hukum. Nehru juga ikhlas meninggalkan segala kemegahan di rumahnya, dengan melakukan safari ke sejumlah provinsi. Dia berbicara dengan para pekerja, pelajar, serta membujuk pegawai negeri untuk meninggalkan pekerjaannya.

Bulan November 1921, Pangeran Edward - Prince of Wales saat itu - berencana mengunjungi India. Nehru muda menunjukkan tajinya. Dia dengan berani menyerukan boikot dan demonstrasi besar-besaran.

Tidak hanya bicara, Nehru ikut mengorganisasi acara istimewa tersebut. Alhasil, pas Edward tiba di Bombay (sekarang Mumbai), demo besar-besaran langsung menyambutnya. Sedangkan Calcutta dan Allahabad menjadi "kota hantu". Semua orang diam di rumah, mengikuti ajakan boikot Nehru.

Aksi itu harus dibayar mahal. Duo Nehru dianggap sebagai penghasut, dan divonis enam bulan penjara oleh pemerintah kolonial. Motilal dilepas pada bulan Juni 1922. Sementara Jawaharlal sempat dibebaskan pada bulan Maret 1922, namun dijebloskan lagi ke hotel prodeo pada Mei 1922 atas tuduhan merencanakan pemberontakan. Untuk "kejahatan" terakhir ini, Nehru divonis 18 bulan penjara.

Selama di dalam bui, Nehru mengalami gangguan pernapasan dan insomnia. Dia mencoba mengatasinya dengan berhenti merokok, melakukan yoga secara rutin, dan menjadi vegetarian. Setelah itu, berangsur-angsur kesehatannya pulih kembali. Pada 31 Januari 1923, setelah melewati delapan bulan masa hukuman, Nehru dibebaskan.

Pemerintah kolonial menyangka Nehru bakal kapok, karena pergerakan tokoh-tokoh sayap ekstrem INC sudah sangat dibatasi. Tapi dugaan itu salah. Nehru bertekad meneruskan upaya pendidikan politiknya, lewat kontak langsung dengan rakyat.

Begitu rajinnya dia bersafari, suatu kali, selepas mengunjungi Kota Jaito, Nehru jatuh sakit. Dokter memvonisnya kena tifus. Bahkan dalam keadaan sakit pun, Nehru masih menyuplai pidato buat para anggota delegasi INC yang sedang berkongres. Pidato yang konsisten menuntut kemerdekaan India.

Cobaan buat Nehru belum berlalu. Akhir 1925, Kamala melahirkan anak kedua, setelah Indira (yang kelak juga menjadi PM India). Sayang, bayi yang lahir prematur itu meninggal dua hari setelah dilahirkan. Kamala sendiri terserang TBC.

Dokter menyarankan agar perempuan asal Kashmir itu banyak menghirup udara segar pegunungan, sekaligus dirawat di sanatorium di luar negeri, misalnya di Swiss. Tanpa pikir panjang, pada Maret 1926, Nehru, Kamala, dan Indira (saat itu 9 tahun) berlayar ke Eropa. Sebagian modal berobat itu datang dari hasil jualan perhiasan Kamala.

Kompromi dengan Gandhi

Walaupun dihadapkan pada masalah keluarga yang demikian pelik, semangat Nehru untuk memerdekakan India tak pernah surut. Segera setelah kesehatan Kamala membaik, Nehru kembali ke India.

Februari 1927, dia mengikuti mega-konferensi League Against Imperialism di Brussels. Di konferensi inilah dia bertemu anak muda asal Vietnam, Nguyen Ai Quoc yang kelak dikenal sebagai Ho Chi Minh.

Di dalam negeri, Nehru mesti menyelaraskan langkahnya dengan tokoh sentral lain di India, Mahatma Gandhi. Sedari mula, Gandhi berpendapat, keluarnya Inggris dari India harus dilakukan tanpa kekerasan, sebuah transisi damai menuju kemerdekaan. Sedangkan Nehru beropini, Inggris tak mungkin memberi kemerdekaan begitu saja. Orang India sendiri yang harus memperjuangkannya. Kalau perlu, lewat perlawanan fisik.

Tariq Ali dalam An Indian Dynasty, The Story of the Nehru-Gandhi Family menulis, satu hal yang kontras pada Nehru dan Gandhi: mereka terlalu hebat di posisinya masing-masing. Dalam peta politik India, Nehru dan Gandhi bak lambang modernisasi dan tradisi.

Yang satu orang kaya Kashmir dari kasta Brahmana, satunya lagi orang Gujarat berlatar belakang pedagang. Yang satu melihat agama sebagai penyebab pecah-belahnya India, satunya lagi percaya hanya agama yang bisa menolong India. Yang satu produk pendidikan ala Barat, satunya lagi produk pendidikan asli Hindu India.

Uniknya, demi India, mereka bisa "berkompromi". Pada 1928, Motilal Nehru pernah menjadi petinggi INC. Ketika Jawaharlal Nehru naik daun, Gandhi mengusulkan agar Nehru junior juga diberi kesempatan serupa. Sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan Nehru.

Ketika berpidato di depan simpatisan INC, bulan Desember 1929, dia menggiring mesin politik raksasa itu untuk fight merebut kemerdekaan. Alih-alih menyetop ajakan Nehru, Gandhi malah memilih bicara soal pengentasan orang miskin dan menghilangkan perbedaan kelas. Sang begawan mulai bisa memaklumi karakter Nehru yang meledak-ledak.

Pidato Nehru yang menggetarkan itu diikuti keuletannya berkomunikasi politik. Bayangkan, selama empat hari di awal April 1930, Nehru 22 kali berpidato di berbagai kesempatan, di hadapan sekitar seperempat juta orang.

Dalam kesempatan itu dia mempopulerkan kalimat yang kemudian sangat terkenal, "He who is not for us is a rebel against his own country." Terbakar oleh semangat Nehru: ibunya, Kamala, dan dua adik perempuan Nehru ikut bergabung dalam barisan. Hanya untuk melihat Nehru ditangkap lagi, dijatuhi hukuman enam bulan, dan dikirim ke penjara Naini.

Motilal yang sangat bangga pada perjuangan anaknya kemudian menghibahkan rumah mewah mereka kepada INC. Rumah itu diberi nama "Swaraj Bhavan" alias rumah kebebasan.

Tak lama setelah itu, Gandhi dipaksa masuk bui (5 Mei 1930), disusul Motilal sendiri (30 Juni 1930). Di luar penjara, tokoh-tokoh INC terus melancarkan gerakan perlawanan. "Kami akan berhenti jika para pemimpin kami dibebaskan," desak mereka.

Baru saja keluar penjara pada 14 Oktober, sebulan kemudian Nehru ditangkap lagi atas tuduhan yang tak pernah berubah: upaya pemberontakan. Kali ini vonisnya dua tahun penjara. Pada 26 Januari 1931, Kamala menyusul masuk penjara.

Musibah berlanjut dengan meninggalnya Motilal pada 5 Februari 1931. Nehru benar-benar dilanda duka mendalam. Terlebih tak lama setelah itu, dua adik perempuannya ikut dijebloskan ke penjara.

Begitu keluar bui, 30 Agustus 1933, Nehru yang gundah langsung menyambangi Gandhi.

"Saya takut, jika tidak tahu apa yang sedang mereka perjuangkan, rakyat akan lelah," tegas Nehru.

"Jangan berpikir terlalu jauh," redam Gandhi.

"Tapi bagi saya, penting untuk selalu selangkah lebih maju pada setiap kesempatan yang kita dapat," jawab Jawaharlal Nehru.

Pembicaraan dua orang penting itu, seperti biasa, berakhir tanpa kesimpulan.

Dari penjara ke penjara

Tahun 1936 diawali berita duka. Kamala tercinta pergi meninggalkan Nehru untuk selamanya, membawa serta TBC yang telah lama menggerogoti. Disusul pengangkatan Nehru sebagai Presiden INC.

Sejak itu, hingga Februari 1937, Nehru melakukan safari ke seluruh provinsi. Menempuh jarak lebih dari 80.000 km, mengendarai beragam alat transportasi, mulai dari kereta, bus, hingga sepeda. Dalam perjalanan itu, Nehru mengaku menemukan "India yang sebenarnya".

Dua tahun Nehru memimpin INC, organisasi ini tumbuh menjadi mesin politik nomor satu di India. Anggotanya melonjak dari hanya 1,5 juta orang menjadi 5 juta orang. Nehru pun memenangkan pemilu di sebagian besar negara bagian.

Namun di tengah keberhasilan itu, pada November 1937, muncul sebuah artikel di Modern Review, menohok Nehru sebagai figur yang membahayakan demokrasi. Tulisan itu mengingatkan, kekuasaan tak terbatas Nehru bisa mendorongnya menjadi Caesar. Jika itu terjadi, demokrasi India bakal dalam bahaya.

Artikel tersebut dengan cepat menebar kehebohan. Saling tuding dan salah menyalahkan terjadi. Sebagian orang menuduh Gandhi sebagai penulisnya. Namun editor Modern Review membantah dengan menyampaikan fakta, "Tak ada nama penulis di artikelnya. Saya pun tak tahu artikel itu dikirim oleh siapa."

Belakangan terbukti, Nehru sendiri yang menulis artikel tersebut, sebagai bentuk otokritik. Satu hal yang jarang dilakukan oleh pemimpin di puncak kekuasaan.

Pada 1938, tak lama setelah menyerahkan tampuk kepemimpinan INC kepada Subhas Chandra Bose, Nehru berlayar ke Eropa. "Perjalanan ini perlu, agar pikiranku kembali fresh dan kelelahanku lenyap," bilangnya kepada sejumlah teman. Namun "istirahat" buat Nehru tampaknya tak berlaku untuk urusan politik.

Pada Juli 1940, pernyataan Nehru bahwa India akan membantu Inggris dalam PD II, hanya jika setelah itu dimerdekakan penuh, mengundang reaksi negatif PM Winston Churchill.

Setelah pidatonya yang berapi-api di Gorakhpur, dan mendapat sambutan hangat rakyat yang berteriak "rela mati demi kemerdekaan", Nehru kembali diincar penguasa kolonial. Pada Oktober 1940, dia dihukum empat tahun penjara, atas tuduhan "menyebarkan propaganda anti-pemerintah".

Namun tak sampai empat tahun, pada Desember 1941 Nehru dibebaskan. Nehru masuk penjara lagi pada Agustus 1942, setelah mendukung gerakan nasional meminta Inggris mundur secepatnya dari India. Kali ini, dia dibui tiga tahun.

Toh, sejarah membuktikan, pembungkaman para tokoh pergerakan itu bukannya menciutkan nyali rakyat India. Perlawanan dan intimidasi terhadap keberadaan Inggris, lewat gerakan "Quit India", justru kian menguat. Inggris tak lagi punya kekuatan untuk mencegah terjadinya kerusuhan massal. Hanya ada satu jalan: India merdeka.

Pada 14 Agustus 1947, pengorbanan lahir dan batin, kekuatan hati, dan kesungguhan Nehru mengejar tujuan perjuangannya, mendapat ganjaran setimpal. Nehru kemudian menjadi PM pertama India, sampai akhir hayatnya, di bulan Mei 1964.

Posting Komentar untuk "Jawaharlal Nehru, Bapak Bangsa India yang dari Penjara ke Penjara"