Dulu bilang, lebih baik mati daripada hina, kini Rismon Sianipar minta maaf ke Jokowi dan Gibran

Pakar Digital Forensik, Rismon Hasiholan Sianipar sebelumnya sempat menyatakan tidak akan mundur selangkah pun dalam polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Bahkan, dalam sebuah podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rismon pernah menegaskan dirinya tak akan meminta maaf dalam kasus tersebut.
Saat itu, Rismon menyebut dirinya sudah kadung 'terlalu basah' terlibat dalam polemik tersebut.
Ia juga menilai meminta maaf dan menarik buku yang ditulisnya berjudul 'Gibran End Game' dari peredaran akan membuat dirinya terlihat hina.
"Kalau saya harus minta maaf, menarik semua (buku) itu, betapa hinanya Rismon Hasiholan Sianipar ini. Lebih baik mati daripada dicap pengkhianat seumur hidup saya," ujar Rismon dalam podcast tersebut yang tayang pada 24 Januari 2026.
Ia juga sempat menyatakan bersedia menghadapi proses hukum di pengadilan, dengan syarat Jokowi hadir secara langsung dalam persidangan.
Namun, sikap Rismon belakangan berubah. Ia menjilat ludahnya sendiri.
Pada Kamis (12/3/2026), ia mendatangi kediaman Jokowi di Solo untuk menyampaikan permintaan maaf terkait tuduhan ijazah palsu.
Sehari setelahnya, Jumat (13/3/2026) pagi, Rismon juga terlihat mendatangi Kompleks Istana Wakil Presiden di Jakarta.
Ia tiba sekitar pukul 09.57 WIB dengan mengenakan kemeja dan celana berwarna biru tua.
Kedatangan Rismon disebut untuk melakukan silaturahmi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Namun, pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup dan Rismon tidak memberikan banyak keterangan kepada awak media.
Sementara itu, Gibran telah merespons permohonan maaf Rismon secara tertulis.
Ia menyebut bulan Ramadan sebagai momen yang baik untuk saling memaafkan dan mempererat kembali hubungan.
"Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan," ujar Gibran dalam keterangannya.
Gibran juga menyampaikan apresiasinya atas klarifikasi yang disampaikan Rismon serta kesediaannya meninjau kembali pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya.
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan sikap dewasa dalam berdemokrasi.
Klarifikasi Rismon
Rismon Hasiholan Sianipar memberikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo dan keluarganya terkait temuan yang sebelumnya ia sampaikan dalam buku Jokowi's White Paper.
Dalam klarifikasinya secara terbuka, Rismon menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil kompilasi dari beberapa penulis, yakni dirinya, Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa.
Ia mengatakan dari lebih 700 halam dalam buku tersebut, sekitar 400 halaman merupakan bagian yang ia tulis sendiri.
"Seperti yang kalian ketahui, bahwa RRT, Roy, Rismond, dan TIPA itu menuliskan buku Jokowi's White Paper di mana 400 halaman lebih saya tuliskan dari 700 halaman di buku tersebut," kata Rismon seperti dikutip dari YouTube Balige Academy yang tayang pada Rabu (11/3/2026).
Ia menegaskan bahwa setiap penulis melakukan penelitian secara independen tanpa saling bergantung satu sama lain.
"Masing-masing tidak ada ketergantungan. Masing-masing melakukan penelitiannya secara independen," ujarnya.
Namun, dalam proses penelitian tersebut, Rismon mengakui terdapat kekeliruan yang dipicu oleh keterbatasan data yang digunakan dalam analisisnya.
"Karena independensi tersebut, maka saya sebagai peneliti secara terbuka mengatakan ada koreksi-koreksi akibat data yang tidak lengkap, akibat rotasi atau translasi maupun resolusi pada data yang saya uji," jelasnya.
Ia menekankan bahwa seorang peneliti harus berpegang pada objektivitas dan kebenaran ilmiah ketika menemukan kesalahan dalam hasil penelitian.
"Oleh karena itu, sebagai peneliti yang bertanggung jawab terhadap kebenaran dan hanya kebenaran ilmiah, seorang peneliti harus bersandar pada objektivitas dalam temuan-temuan dalam kerja-kerja ilmiahnya," kata Rismon.
Ia pun menyatakan secara terbuka bahwa temuan sebelumnya memang mengandung kekeliruan, meskipun menggunakan metodologi yang ia tuliskan dalam buku tersebut.
"Oleh karena itu, temuan saya sebelumnya yang telah melukai, yang telah membuat commotion dalam perkembangan kita akhir-akhir ini melukai keluarga Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri, saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman kepada keluarga Bapak Jokowi," ujarnya.
Klaim miliki temuan baru
Rismon Sianipar mengakui memiliki temuan baru terkait ijazah Presiden ke- RI Joko Widodo (Jokowi).
Rismon mengatakan, selama ini ia masih terus meneliti dokumen yang keasliannya dipersoalkan tersebut.
Temuan terbaru itu juga telah disampaikan kepada penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
"Penelitian itu bersifat ongoing dan tidak final. Maka saya meng-update hal-hal yang sangat vital dan penting kepada penyidik terkait dengan temuan-temuan saya yang baru," kata Rismon saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Rabu (11/3/2026) dikutip dari Kompas.com.
Namun, Rismon tidak mengungkapkan secara rinci temuannya ketika ditanya lebih lanjut. Ia hanya menjelaskan bahwa temuannya berkaitan dengan tiga variabel dalam pengolahan citra digital.
Ketiga variabel tersebut meliputi translasi, rotasi, dan pencahayaan.
"Temuan saya bisa jadi berkebalikan dengan simpulan-simpulan yang saya sebut dalam Jokowi's White Paper," kata dia.
Rismon juga menegaskan bahwa meski buku Jokowi’s White Paper disusun bersama Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma, masing-masing memiliki ruang kerja penelitian yang berbeda.
"Dalam kerja-kerja penelitian itu kami berbeda dan independen. Saya tidak dipengaruhi oleh Pak Roy Suryo maupun tidak dipengaruhi oleh Bu Tifa," ujar dia.
Dengan temuannya itu, Rismon mengajukan permohonan restorative justice kepada penyidik.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin mengatakan, saat ini pihaknya tengah menindaklanjuti permohonan itu.
"Jadi beberapa hari yang lalu RHS ini bersama pengacaranya menyampaikan permohonan fasilitasi restorative justice kepada penyidik. Dan kami sedang melakukan upaya untuk memfasilitasi permohonan yang disampaikan oleh tersangka RHS," tutur Iman ditemui terpisah.
Posting Komentar untuk "Dulu bilang, lebih baik mati daripada hina, kini Rismon Sianipar minta maaf ke Jokowi dan Gibran"