95 persen depo sampah di Kota Yogyakarta sudah kosong, target beres sebelum Lebaran
/data/photo/2023/08/09/64d318b642706.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pemkot Yogyakarta mengebut proses pengosongan depo sampah di wilayahnya menjelang momentum libur Lebaran 2026.
- Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menyebut, sampai sejauh ini, progres pengosongan depo tercatat sudah mencapai angka 95 persen.
- Menurut Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengatakan, pihaknya menargetkan seluruh depo sampah sudah dalam kondisi steril pada Selasa (17/3/26) mendatang.
GOHANS NEWS, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengebut proses pengosongan depo sampah di wilayahnya menjelang momentum libur Lebaran 2026.
Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, sampai sejauh ini, progres pengosongan depo tercatat sudah mencapai angka 95 persen.
Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengatakan, pihaknya menargetkan seluruh depo sampah sudah dalam kondisi steril pada Selasa (17/3/26) mendatang.
Langkah tersebut, terangnya, diambil sebagai upaya antisipasi menghadapi potensi lonjakan volume sampah selama masa libur Idulfitri yang cukup panjang.
"Hari-hari ini kami terus melakukan pengosongan depo. Sekarang progresnya sudah 95 persen. Insyaallah, maksimal Selasa semuanya sudah kosong dan siap mengantisipasi libur Lebaran," ujarnya, Jumat (13/3/26).
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Rajwan memprediksi akan terjadi peningkatan timbulan sampah di kisaran 15 - 20 persen pada periode tersebut.
Sampah organik basah mendominasi
Menurutnya, jenis limbah yang akan mendominasi adalah sampah organik basah yang berasal dari sisa makanan dan aktivitas rumah tangga masyarakat.
Untuk mengantisipasi penumpukan kembali di depo, DLH akan memaksimalkan titik-titik kumpul di wilayah kelurahan, dengan mengalihkan aliran sampah organik langsung ke tangan offtaker.
"Prediksinya dominan sampah organik basah karena banyak keluarga berkumpul. Ini akan kita optimalkan di titik kumpul dan sudah dikoordinasikan dengan offtaker. Jadi, di hari libur pun sampah bisa langsung diambil oleh mereka," jelasnya.
Selain fokus pada pengosongan depo, Pemkot Yogyakarta juga menaruh perhatian pada keberadaan gerobak-gerobak sampah milik penggerobak yang kerap terparkir di pinggir jalan.
Bukan tanpa alasan, fenomena tersebut sempat jadi sorotan kalangan legislatif, lantaran dianggap mengganggu estetika kota, serta kelancaran lalu lintas.
"Kami sudah koordinasi dengan Pak Kasatpol PP. Harapannya, gerobak yang sudah kosong dibawa kembali ke tempat tinggalnya. Kalau memang tidak ada tempat, silakan dimasukkan ke dalam depo supaya tidak berjajar di pinggir jalan," tegasnya.
Depo sampah bersih saat Lebaran
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mematok target seluruh depo sampah di wilayahnya sudah bersih dari tumpukan limbah sebelum hari raya Idulfitri.
Proses pun harus dikebut, supaya warga masyarakat dapat merayakan momentum lebaran dengan nyaman, termasuk saat melaksanakan salat Ied.
"Target kami sebelum Idulftri depo-depo sudah bersih dari tumpukan sampah. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan salat Ied dan merayakan lebaran di Kota Yogyakarta dengan rasa nyaman," cetusnya.
Untuk mencapai target tersebut, ia pun mengajak warga berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui gerakan lima langkah Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah.
Program ini merupakan upaya Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengurangi volume sampah dengan cara mengolah limbah langsung dari sumbernya.
Melalui gerakan tersebut publik diharapkan memilah, mengolah, serta memanfaatkan kembali sampah rumah tangga, sehingga tidak seluruhnya berakhir di depo atau tempat pembuangan akhir.
"Dengan keterlibatan masyarakat, diharapkan persoalan sampah di Kota Yogyakarta dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan," ungkapnya.
Mas JOS dilirik pusat
Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang digulirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta digadang-gadang jadi role model penanganan limbah nasional.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI secara terbuka melirik program ini untuk direplikasi, serta dikembangkan di berbagai daerah lain di Indonesia.
Direktur Pemulihan Lahan Terkontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 KLH RI, Vinda Damayanti Ansjar, menuturkan Mas JOS bisa menjadi starter atau pemicu bagi kota-kota lain dalam manajemen persampahan.
Bukan tanpa alasan, berdasarkan datanya, saat ini Kota Yogyakarta dinilai sebagai yang terdepan dengan keterlibatan sekitar 37.000 Kepala Keluarga (KK) yang aktif memilah dan mengolah sampah.
"Mas JOS ini bisa menjadi starter buat kota-kota lainnya. Jumlah pesertanya sudah sangat meningkat, ada 37 ribu KK yang konsisten memilah, mengolah organik, dan menimbang sampah anorganik ke bank sampah," ujarnya, di sela agenda Mas JOS Award 2025 di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (12/12/2025).
Vinda menyebut, kesuksesan program Mas JOS tidak hanya dilihat dari angka partisipasi semata, melainkan fondasi budaya yang terbangun di masyarakat.
Menurutnya, Kota Yogyakarta memiliki karakteristik unik, di mana pengolahan sampah mulai bertransformasi jadi kultur baru warga, bukan sekadar program pemerintah sesaat.
"Perbedaannya, di Kota Yogyakarta ini (memilah sampah) akan menjadi budaya masyarakat. Itu hal yang paling penting. Jadi, siapapun nanti pemimpin kota ini, karena sudah menjadi budaya, maka program akan terus berjalan," ujarnya.
Oleh sebab itu, Kementerian Lingkungan Hidup berencana mereplikasi model penanganan sampah dari hulu ala Mas JOS ini hingga ke luar DI Yogyakarta, bahkan Pulau Jawa.
Harapannya, skema tersebut mampu mengurangi ketergantungan daerah terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mengingat banyak TPA di Indonesia yang sudah over capacity akibat sistem open dumping.
"Ini akan dikembangkan untuk kota-kota berikutnya. Kita mengharapkan dapat direplikasi, sehingga jumlah sampah yang ditimbun di TPA semakin berkurang," ungkapnya.
Rekonstruksi sosial warga
Sementara, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan, event Mas JOS Award 2025 digelar untuk menggelorakan semangat rekonstruksi sosial warga dalam memilah sampah.
Hasto memaparkan, progres di akar rumput menunjukkan tren positif. Sebagai contoh, dalam pengumpulan sampah organik basah sisa makanan, volumenya terus menanjak hingga mencapai 25 ton per hari atau setara 1.000 ember.
"Awalnya 300, 400, sekarang tembus 1.000 ember. Berarti sebetulnya warga masyarakat itu masih bisa diajak kerja sama untuk memilah dari rumah. Meski butuh perjuangan, harapan saya ini meningkat terus," cetusnya.
Lebih lanjut, Wali Kota juga mendorong lebih dari 600 bank sampah yang sekarang beraktivitas di Kota Yogyakarta, untuk meningkatkan frekuensi operasionalnya.
Ia berharap bank sampah bisa melayani penimbangan setiap hari agar memudahkan warga menyetorkan sampah anorganik, sehingga gerakan memilah dari hulu benar-benar menjadi kenyataan.
"Intinya kita ingin menggelorakan kembali semangat memilah sampah dari hulu. Mereka yang berprestasi hari ini kita tampilkan, supaya bisa getok tular ke bank sampah yang lain," pungkasnya.
Posting Komentar untuk "95 persen depo sampah di Kota Yogyakarta sudah kosong, target beres sebelum Lebaran"