Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jatim terpopuler: Karir Sekda Sidoarjo yang gelar bukber mewah hingga mengenal Candi Ngetos

Ringkasan Berita:
  1. Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati meminta maaf setelah acara bukber pejabat Kabupaten Sidoarjo bertema Bollywood viral.
  2. Candi Ngetos di Kabupaten Nganjuk merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang dikaitkan dengan pendharmaan Hayam Wuruk.
  3. Dedik Irawan ditemukan meninggal di kamar kos di Kelurahan Banjarmendalan, Lamongan dan penyebab kematian masih diselidiki polisi.

Berita dimulai dari jejak karir Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati gelar bukber mewah.

Selanjutnya ada penemuan jenazah di Lamongan.

Hingga mengenal Candi Ngetos di Nganjuk.

Berikut selengkapnya:

Karir Fenny Apridawati

Sekda Fenny Apridawati yang sebelumnya sempat jadi sorotan akhirnya minta maaf.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Fenny Apridawati, melalui akun Instagram pribadinya @fennyaprdwt, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Permohonan maaf itu ia layangkan terkait ramainya perbincangan di media sosial mengenai acara buka puasa bersama pejabat Pemkab Sidoarjo yang mengusung tema Bollywood.

"Kami secara pribadi dan kedinasan mohon maaf yang setulus-tulusnya atas kejadian yang viral atau berita yang viral kemarin," ujar Fenny dalam unggahan tersebut, Jumat (13/3/2026).

Menurut dia, acara yang berlangsung pada Jumat (6/3/2026) lalu di Mahabarata Palace Graha Unesa, Kota Surabaya, tersebut sebenarnya merupakan agenda rapat koordinasi yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama.

Acara tersebut dihadiri oleh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hingga jajaran camat.

Ia juga memastikan bahwa seluruh biaya yang dipergunakan dalam acara tersebut tidak diambil ataupun berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Kemudian berikutnya, apa yang saya pakai semuanya merupakan produk UKM Sidoarjo," lanjut dia.

Mewah

Sebelumnya, beredar video dan foto acara buka bersama tersebut, yang lalu dinilai berkonsep mewah dengan tema Bollywood.

Hal ini memicu kritik tajam dari warga yang menilai, pemandangan itu berbanding terbalik antara kemewahan dalam konsep acara dan kondisi infrastruktur di Sidoarjo.

Sejumlah warga malah menyoroti masalah jalan rusak di beberapa wilayah yang dinilai lebih mendesak untuk ditangani ketimbang menggelar acara dengan tema khusus semacam itu.

Jejak karir

Fenny adalah pejabat dengan pangkat Pembina Utama Madya yang memiliki rekam jejak akademik dan karier yang sangat impresif di lingkungan pemerintahan.

Kapasitas intelektualnya dibuktikan melalui deretan gelar akademik yang ia raih, antara lain:

  • Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM.) sebagai fondasi keilmuan awalnya.
  • Magister Kesehatan (M.Kes.) untuk memperdalam manajemen sektor publik.
  • Doktor (Dr.) yang mengukuhkan kompetensinya dalam analisis kebijakan strategis di tingkat tertinggi.

Sebelum mencapai posisi puncak sebagai ASN di Kabupaten Sidoarjo, Fenny telah menempati berbagai posisi strategis yang mengasah kemampuan kepemimpinannya di berbagai sektor vital, seperti:

  • Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, di mana ia fokus pada pelayanan kesehatan masyarakat.
  • Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sidoarjo, yang menangani dinamika industri dan ketenagakerjaan.
  • Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sidoarjo, yang membidangi penguatan ekonomi lokal dan UMKM.

Sebagai Sekda, Fenny memegang peran sentral dalam mengharmonisasikan kebijakan antar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta memastikan visi pembangunan daerah berjalan efektif dan transparan.

Kiprahnya di tingkat nasional pun sangat diakui, terbukti dengan keberhasilannya meraih penghargaan Juara I Sekda Terbaik dalam ajang ASKOMPSI Digital Leadership Government Award 2025.

Penghargaan prestisius ini diberikan atas kontribusi nyatanya dalam mempercepat transformasi digital pemerintahan yang berdampak langsung pada efisiensi birokrasi dan peningkatan mutu layanan publik.

Meski kini ia menghadapi tantangan persepsi publik terkait gaya hidup pejabat, dedikasi Fenny dalam mereformasi tata kelola pemerintahan di Sidoarjo tetap menjadikannya salah satu figur pemimpin perempuan berpengaruh di Jawa Timur saat ini.

Sosok Fenny Apridawati

Fenny Apridawati merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) berpangkat Pembina Utama Madya.

Fenny mengemban amanah sebagai Sekda Sidoarjo, Jawa Timur, sejak Maret 2024.

Riwayat Pendidikan

  • Doktor (Dr.) Ilmu Kedokteran, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, angkatan 2008.
  • Magister Kesehatan (M.Kes.)
  • Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM.)

Rekam Jejak Fenny Apridawati

Sebelum mencapai posisi puncak sebagai ASN di Kabupaten Sidoarjo, Fenny telah menempati berbagai posisi strategis, di antaranya:

  • Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, periode 2022-2024
  • Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sidoarjo, yang menangani dinamika industri dan ketenagakerjaan, periode 2019-2022
  • Fenny Apridawati menjadi salah satu pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dengan nilai terbaik seleksi JPTP Sekda Sidoarjo, pada November 2023.
  • Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sidoarjo.

Berita viral lainnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews GOHANS MIND

Mengenal Candi Ngetos Nganjuk

Candi Ngetos merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Candi bercorak Hindu ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan masa kejayaan Majapahit serta sosok Raja Hayam Wuruk.

Bangunan candi yang berdiri di kaki Gunung Wilis tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-15 saat Majapahit masih berkuasa di Nusantara.

Meski kini kondisinya tidak lagi utuh, bangunan ini tetap menjadi salah satu situs sejarah penting di wilayah Nganjuk.

Lokasi dan Latar Belakang Pembangunan

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer di selatan Kota Nganjuk.

Letaknya berada di tepi jalan raya yang menghubungkan wilayah Kuncir dan Ngetos, sehingga relatif mudah dijangkau oleh pengunjung.

Menurut berbagai kajian sejarah, candi ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit.

Dilansir dari tribunnewswiki.com, kawasan ini diyakini menjadi tempat yang berkaitan dengan pemakaman atau pendharmaan Raja Hayam Wuruk.

Raja Hayam Wuruk sendiri merupakan raja keempat Majapahit yang memerintah sejak tahun 1350 hingga 1389 Masehi.

Pada masa pemerintahannya, Majapahit mencapai puncak kejayaan dengan dukungan Mahapatih Gajah Mada.

Pegiat sejarah dari Komunitas Pencinta Sejarah Nganjuk, Sukadi, dikutip dari regional.kompas.com, menyebut bahwa sebagian abu kremasi Hayam Wuruk didharmakan di kawasan Paramasakapura atau yang dikenal sebagai Candi Ngetos.

“Dalam pendharmaan tersebut yang disimpan di Candi Ngetos hanya sebagian abu kremasi Hayam Wuruk,” kata Sukadi.

Namun pendapat tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh semua pihak.

Juru pelihara Candi Ngetos, Aris Trio Effendi, mengatakan bahwa candi tersebut lebih tepat disebut sebagai candi pendharmaan atau tempat penghormatan terhadap Hayam Wuruk.

Menurutnya, belum ada bukti tertulis yang menyatakan bahwa abu kremasi raja Majapahit tersebut benar-benar disimpan di dalam candi.

Arsitektur dan Bentuk Bangunan

Secara arsitektur, Candi Ngetos memiliki ciri khas bangunan era Majapahit karena dibuat dari bata merah.

Material tersebut membuat bangunan lebih rentan mengalami kerusakan dibandingkan candi yang menggunakan batu andesit.

Diketahui, bangunan utama candi saat ini hanya menyisakan bagian induk.

Sedangkan bagian struktur seperti relief dan ornamen telah mengalami kerusakan, sehingga bentuk aslinya sulit diketahui secara pasti.

Saat ini, ukuran bangunan candi yang masih dapat diketahui antara lain:

  • Panjang candi sekitar 9,1 meter
  • Tinggi keseluruhan sekitar 10 meter
  • Tinggi badan candi sekitar 5,43 meter
  • Saubasemen setinggi 3,25 meter
  • Lebar pintu masuk sekitar 0,65 meter
  • Ruang dalam sekitar 2,4 meter

Selain itu, atap candi diduga dahulu terbuat dari kayu, sehingga tidak lagi tersisa karena telah lapuk dimakan usia.

Candi ini memiliki bilik di tengah bangunan dengan tangga di sisi barat, sehingga orientasi candi menghadap ke arah barat.

Para ahli juga memperkirakan bahwa kompleks candi dahulu dikelilingi tembok berbentuk lingkaran dan berada di area bertingkat di lereng Gunung Wilis.

Relief dan Ornamen Candi

Candi Ngetos dulunya memiliki empat relief utama, namun kini hanya satu yang masih tersisa. Tiga relief lainnya telah rusak seiring berjalannya waktu.

Diketahui, pada bagian alas candi dahulu terdapat pigura-pigura yang dihiasi ornamen berbentuk belah ketupat dan motif daun.

Di sisi kanan dan kiri bangunan terdapat relung kecil yang dihiasi ornamen spiral menyerupai makara.

Selain itu, bagian tubuh candi memiliki beberapa relung kosong dengan tinggi sekitar dua meter, yang dahulu kemungkinan digunakan untuk menempatkan arca.

Salah satu ornamen yang paling mencolok adalah hiasan kala berukuran besar yang berada di bagian atas relung.

Wajah kala digambarkan menyeramkan dan diyakini berfungsi sebagai simbol penolak bahaya.

Motif kala seperti ini umum ditemukan pada bangunan candi Hindu di Jawa dan Bali, yang pengaruhnya berasal dari budaya India.

Arca dan Corak Keagamaan

Berdasarkan temuan arkeologis, Candi Ngetos memiliki corak Siwa–Wisnu.

Hal ini diketahui dari ditemukannya arca Siwa dan arca Wisnu di kawasan candi.

Para ahli menduga bahwa arca Siwa dalam candi ini menjadi arca utama, sedangkan arca Wisnu berperan sebagai arca pendamping.

Sebagaimana dilansir dari Pusaka Jawatimuran, arca Wisnu yang pernah ditemukan di lokasi ini kemudian disimpan di Kediri.

Sementara arca lainnya sudah tidak diketahui keberadaannya.

Saat ini tidak ada lagi arca yang tersisa di dalam bangunan candi.

Namun masyarakat setempat pernah menyebut adanya benda-benda kuningan seperti wadah dan perlengkapan ritual yang dahulu berada di dalam candi.

Cerita Rakyat dan Legenda Candi Ngetos

Selain catatan sejarah, Candi Ngetos juga memiliki kisah legenda yang berkembang di masyarakat.

Konon, pembangunan candi ini merupakan prakarsa Raja Hayam Wuruk yang ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat penyimpanan abu jenazahnya setelah wafat.

Lokasi Ngetos dipilih karena berada di kaki Gunung Wilis yang dianggap menyerupai Gunung Mahameru dalam kosmologi Hindu.

Pembangunan candi disebut diserahkan kepada pamannya, Raden Condromowo atau Raden Ngabei Selopurwoto yang memerintah di wilayah Ngatas Angin.

Cerita rakyat juga menyebut bahwa dahulu terdapat dua candi kembar di kawasan tersebut yang disebut Candi Tajum, dengan ukuran berbeda antara satu dengan lainnya.

Namun, saat ini hanya satu bangunan yang tersisa.

Masih Digunakan untuk Peribadatan

Meski mayoritas masyarakat di sekitar Candi Ngetos kini beragama Islam, situs bersejarah ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu.

Umat Hindu dari berbagai daerah sering datang untuk bersembahyang menjelang hari raya keagamaan seperti Nyepi dan Kuningan.

Hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai situs sejarah, Candi Ngetos juga masih memiliki fungsi spiritual bagi masyarakat.

Situs Bersejarah di Lereng Gunung Wilis

Keberadaan Candi Ngetos menjadi bukti penting perkembangan budaya dan agama pada masa Kerajaan Majapahit.

Meski sebagian bangunannya telah rusak, situs ini tetap menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang menggambarkan kejayaan Majapahit sekaligus penghormatan terhadap Raja Hayam Wuruk.

Candi Ngetos kini menjadi salah satu destinasi sejarah di Kabupaten Nganjuk yang menarik untuk dikunjungi, sekaligus sarana mempelajari jejak peradaban masa lampau di Jawa Timur.

Penemuan jenazah di rumah kos

Seorang pria penghuni rumah kos di Kelurahan Banjarmendalan, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan ditemukan meninggal dunia pada Jumat (13/3/2026) sore.

Polisi dari Polsek Lamongan Kota bersama Unit Identifikasi Satreskrim melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah menerima laporan dari warga.

Korban diketahui berinisial Dedik Irawan (30), warga Kecamatan Sugio, Lamongan. Ia ditemukan dalam kondisi pria meninggal dunia di kamar kos sekitar pukul 15.45 WIB.

Kronologi Penemuan: Berawal dari Bau Menyengat

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh teman kerja korban, Junaid Catur (46) yang datang ke tempat kos untuk mengecek kondisi korban Dedik Irawan

Pasalnya, korban diketahui sudah tidak masuk kerja sejak 5 Maret 2026 karena dikabarkan sedang sakit.

Setibanya di lokasi, saksi mencium bau tidak sedap yang menyengat dari kamar kos korban serta melihat banyak lalat di sekitar lokasi.

Merasa curiga, saksi kemudian melaporkan hal tersebut kepada ketua RT dan pemilik rumah kos.

Selanjutnya, mereka bersama-sama mendatangi kamar korban. Namun, pintu kamar dalam kondisi terkunci dari dalam sehingga tidak dapat dibuka. Warga akhirnya mendobrak pintu secara paksa.

Setelah pintu terbuka, korban ditemukan terbaring di atas kasur dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian.

Petugas dari Polres Lamongan bersama anggota Polsek Lamongan Kota segera datang ke lokasi untuk melakukan olah TKP dan proses identifikasi.

Polisi kemudian mengevakuasi jenazah korban dan membawanya ke RSUD Dr Soegiri Lamongan guna dilakukan pemeriksaan visum.

Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M Hamzaid mengatakan, Satreskrim Polres Lamongan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

Ditambahkan, tempat kos dimana korban ditemukan sejak kemarin petang langsung dipasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan.

"Penyebab kematian korban masih dalam penyelidikan, "kata Hamzaid, Sabtu (14/3/2026).

Pihaknya memastikan, garis polisi itu akan dilepas jika proses penyelidikan terhadap kematian korban selesai.

Posting Komentar untuk "Jatim terpopuler: Karir Sekda Sidoarjo yang gelar bukber mewah hingga mengenal Candi Ngetos"