Ekonom soroti kedaulatan data hingga industri pertahanan di Soemitro Economic Forum

Menghidupkan Kembali 'Soemitronomics': Kunci Indonesia Berdaulat di Tengah Badai Geopolitik Global
GOHANS NEWS, JAKARTA - Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik, perang teknologi, hingga ketidakpastian rantai pasok global membuat banyak negara mulai memutar otak untuk bertahan hidup. Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, Indonesia diingatkan kembali pada sebuah konsep pemikiran ekonomi yang sangat mendasar namun visioner: Soemitronomics.
Gagasan ini kembali mencuat dalam acara Soemitro Economic Forum II yang digelar oleh Indonesia Roundtable of Young Economists (IN.RY) di Hotel Majapahit Jakarta, Kamis (12/3/2026). Forum ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan momentum memperingati 25 tahun wafatnya Soemitro Djojohadikusumo, sosok "Guru Bangsa" yang sepanjang hidupnya berjuang demi kesejahteraan rakyat dan kemandirian ekonomi nasional.
1. Apa Itu Soemitronomics dan Mengapa Masih Relevan?
Bagi masyarakat awam, istilah "Soemitronomics" mungkin terdengar teknis. Namun, secara sederhana, ini adalah strategi untuk membangun Kapitalisme Nasional. Artinya, negara tidak hanya membiarkan pasar bekerja sendiri, tetapi negara hadir sebagai pengarah, pelindung, dan penggerak ekonomi.
A.M. Hendropriyono, yang membuka forum tersebut, menjelaskan bahwa inti dari pemikiran ini adalah membangun kekuatan ekonomi yang berpihak pada kepentingan bangsa sendiri. Di tengah krisis energi dan fragmentasi ekonomi dunia (pecahnya kerja sama ekonomi global), Indonesia perlu menjadi "arsitek" bagi rumah tangganya sendiri.
Langkah Strategis Menuju Kedaulatan Industri:
• Hilirisasi Total: Jangan lagi menjual bahan mentah ke luar negeri. Kita harus mengolahnya di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati orang kita sendiri.
• Mencetak Konglomerat Berbasis Produksi: Mendorong pengusaha besar yang fokus pada industri manufaktur, bukan sekadar perdagangan atau makelar.
• Revolusi Pendidikan: Menyiapkan tenaga kerja yang ahli di bidang teknologi dan industri agar kita tidak terus-menerus bergantung pada tenaga ahli asing.
2. Peluang di Tengah Konflik Global: Dari Manufaktur Hingga Ekonomi Hijau
Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memang mengkhawatirkan karena bisa mengganggu jalur perdagangan dunia. Namun, Direktur Utama Askrindo, M. Fankar Umran, melihat ada celah kesempatan bagi Indonesia.
Investasi Nyata, Bukan Sekadar Angka
Indonesia harus bergeser dari sekadar mengejar "investasi portofolio" (yang bisa ditarik kapan saja lewat pasar saham) menuju Foreign Direct Investment (FDI) yang membangun pabrik, sistem logistik, dan menyerap tenaga kerja.
Menjadi Pemimpin Ekonomi Hijau
Dengan kekayaan mineral seperti nikel, Indonesia punya peluang emas menjadi pemain utama dalam ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Ini adalah bentuk konkret dari "Bangsa Produsen" yang dicita-citakan Soemitro—bangsa yang mampu mendesain, mengelola, dan membiayai kepentingannya sendiri.
3. Papan Catur Global: Perang Data, Energi, dan Teknologi
Dunia saat ini sedang mengalami proses reset atau pengaturan ulang. Menurut Kun Wardana, Dekan Fakultas Teknik di ISTN, ada tiga faktor utama yang akan menentukan siapa pemenang di tatanan dunia baru:
1. De-dolarisasi: Upaya negara-negara untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada mata uang Dollar AS.
2. Perang Energi: Perebutan kendali atas sumber daya energi baru dan terbarukan.
3. Perang Teknologi: Persaingan penguasaan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi.
"Data adalah Minyak Baru"
Indonesia dengan 280 juta penduduk menghasilkan data dalam jumlah raksasa setiap detiknya. Kun menekankan bahwa Kedaulatan Data adalah harga mati. Siapa yang memiliki data terbesar dan algoritma terpintar, dialah yang akan menguasai ekonomi masa depan. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar, tapi harus menjadi pemilik data yang berdaulat.
4. Ekonomi Digital yang Merambah Desa
Cucu dari Soemitro, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, membawa perspektif yang menarik mengenai inklusivitas. Ia melihat bahwa proses "resetting" dunia saat ini menuntut kita untuk lebih terbuka pada perbedaan pendapat dalam diskusi ekonomi.
Menariknya, Sara menyoroti bahwa ekonomi digital kini tidak lagi hanya milik orang kota. Tren e-commerce mulai bergeser ke desa-desa. Transaksi ekonomi justru tumbuh subur di wilayah pedesaan, yang menandakan bahwa teknologi digital mulai berhasil membumi dan menyentuh lapisan masyarakat paling bawah—sejalan dengan akar Soemitronomics yang berbasis pada gerakan rakyat.
Warisan untuk Masa Depan
Leonardo A. Putong, General Convener forum ini, menegaskan bahwa pemikiran Soemitro adalah "DNA perjuangan" ekonomi Indonesia. Di tahun 2026 ini, tantangannya mungkin berbeda dari zaman dulu, namun prinsipnya tetap sama: Kemandirian.
Indonesia tidak boleh sekadar tumbuh secara angka, tetapi harus bertransformasi secara struktur agar kekayaan alam dan kemajuan teknologi benar-benar bermuara pada kesejahteraan seluruh rakyat, bukan segelintir kelompok saja.
Posting Komentar untuk "Ekonom soroti kedaulatan data hingga industri pertahanan di Soemitro Economic Forum"