Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dukungan untuk Andrie Yunus menggema di Bundaran UGM Yogyakarta

Dukungan untuk Andrie Yunus menggema di Bundaran UGM Yogyakarta

Tragedi Andrie Yunus: Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS dan Menggemanya Solidaritas Sipil di Jogja

GOHANS NEWSYOGYA- Pernahkah Anda membayangkan sedang berkendara pulang di malam hari yang tenang, namun tiba-tiba menjadi korban serangan brutal yang mengubah hidup Anda selamanya? Itulah mimpi buruk yang baru saja dialami oleh Andrie Yunus, seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh berita memilukan mengenai penyiraman air keras yang menimpa Andrie. Kejadian ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sebuah teror nyata yang membungkam kebebasan berekspresi di negara demokrasi ini. Untuk memahami mengapa kasus ini memicu kemarahan publik yang luar biasa—hingga memancing gelombang demonstrasi dari Yogyakarta—mari kita bedah kronologinya dengan bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami.

Kronologi Mengerikan: Malam Kelam di Jalan Salemba

Sebagai informasi bagi Anda yang mungkin awam, KontraS adalah lembaga non-pemerintah yang sejak lama konsisten membela masyarakat kecil yang menjadi korban kekerasan atau ketidakadilan aparat dan negara. Menjadi aktivis di lembaga ini tentu memiliki risiko tinggi.

Berdasarkan keterangan resmi dari Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, teror terhadap Andrie terjadi pada larut malam. Tepatnya pukul 23.37 WIB, saat Andrie sedang mengendarai sepeda motornya melewati rute Jalan Salemba I menuju kawasan Talang, Jakarta.

Di tengah perjalanan, tepat di atas Jembatan Talang, sebuah sepeda motor Honda Beat (diperkirakan keluaran tahun 2016-2021) memepetnya. Tanpa ada aba-aba atau peringatan, salah satu dari dua orang tak dikenal di motor tersebut langsung menyiramkan cairan kimia berbahaya—yang kita kenal sebagai air keras—tepat ke arah Andrie.

Kesaksian Warga: Teriakan Minta Tolong Memecah Malam

Air keras bukanlah sekadar air panas. Cairan kimia ini bersifat korosif, yang artinya langsung merusak, melelehkan, dan membakar jaringan kulit dalam hitungan detik. Dampaknya sangat fatal. Andrie menderita luka bakar yang sangat parah di area vital: wajah, dada, mata, hingga kedua tangannya.

Buyung (32), seorang warga sipil yang kebetulan sedang nongkrong di ujung Jembatan Talang malam itu, menjadi saksi mata kengerian tersebut.

"Tiba-tiba terdengar 'Tolong! Tolong!', suaranya kencang tuh 'Tolong, tolong!'. Terus saya taruh gitar, saya ke asal suara," cerita Buyung.

Sesampainya di lokasi, Buyung disuguhi pemandangan yang menyayat hati. Andrie sudah terjatuh dari motornya, mengerang menahan rasa perih yang tak tertahankan. Saking panasnya efek air keras tersebut, Andrie bahkan sampai merobek bajunya sendiri yang menempel di kulitnya yang melepuh.

Ketika ditanya oleh warga yang berdatangan untuk menolong, Andrie hanya bisa menjawab bahwa ia disiram air keras oleh orang tak dikenal. Luar biasanya, di tengah penderitaan fisik yang ekstrem, Andrie masih berusaha tegar. Ia memperkenalkan diri sebagai aktivis KontraS. Meski warga menawarkannya tumpangan menuju mess (tempat tinggal) KontraS yang tak jauh dari sana, Andrie menolak dengan halus. Dengan sisa tenaganya, ia memaksakan diri mengendarai motornya sendiri.

Sementara itu, warga lain sempat berusaha mengejar dua pelaku pengecut tersebut, namun sayang, motor Honda Beat itu dipacu terlalu kencang dan menghilang ditelan gelapnya malam jalan raya.

Gelombang Solidaritas dari Yogyakarta: Bunga dan "Surat Cinta"

Kabar penyerangan Andrie Yunus langsung meledak bak bola salju. Masyarakat sipil yang muak dengan premanisme dan teror terhadap pejuang keadilan mulai bergerak. Salah satu aksi paling emosional dan puitis terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada hari Sabtu, 14 Maret 2026 sore, area Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) mendadak dipenuhi oleh puluhan warga yang tergabung dalam aliansi "Suara Ibu Indonesia". Berbeda dengan demonstrasi pada umumnya yang identik dengan pembakaran ban atau aksi dorong-dorongan, aksi ini dikemas dengan sangat menyentuh hati.

Simbol Perlawanan Tanpa Kekerasan

Alih-alih membawa senjata, massa aksi datang membawa bunga segar. Bunga ini menjadi ilustrasi dan simbol dari harapan, kedamaian, sekaligus doa untuk kesembuhan fisik dan trauma yang dialami Andrie. Tak hanya itu, mereka juga mengumpulkan "surat cinta"—kumpulan pesan-pesan dukungan moral dan penguat semangat dari warga Jogja yang rencananya akan dikirimkan langsung untuk Andrie di Jakarta.

Cila, salah satu perwakilan massa aksi sore itu, memberikan orasi yang menggetarkan. Ia mengibaratkan penyerangan terhadap Andrie sebagai sirine bahaya bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Itu menjadi satu alarm bagi kita, masyarakat sipil, untuk menguatkan posisinya... mengeratkan tali solidaritas bagi Andri," tegas Cila.

Tuntutan Keras untuk Negara: Jangan Hanya Tangkap "Kroco"nya!

Lalu, apa sebenarnya tuntutan para demonstran ini? Jawabannya sederhana: Keadilan yang transparan.

Dalam berbagai kasus kejahatan yang menimpa tokoh publik atau aktivis di Indonesia (seperti kasus penyiraman air keras terhadap mantan penyidik KPK Novel Baswedan beberapa tahun silam), sering kali polisi hanya berhasil menangkap pelaku lapangan atau "kroco"nya saja. Orang yang menyiram atau yang menyetir motor.

Padahal, logika awam kita pasti bertanya: Apakah preman jalanan iseng membawa air keras dan menargetkan seorang aktivis HAM tanpa bayaran? Tentu sangat kecil kemungkinannya. Pasti ada "Aktor Intelektual" atau dalang berduit dan berkuasa di balik teror ini.

"Kita ingin negara membuka sejelas-jelasnya siapa pelakunya, tidak hanya aktor di lapangan saja, tapi juga aktor intelektualnya," ungkap Cila di tengah kerumunan massa UGM.

"Pisau di Leher" Kebebasan Berekspresi

Mengapa ibu-ibu dan mahasiswa di Jogja ini begitu peduli? Karena teror ini adalah bentuk shock therapy (terapi kejut) yang dirancang untuk menebar ketakutan. Jika seorang aktivis dari lembaga sebesar KontraS saja bisa dianiaya di jalanan ibu kota, lalu bagaimana nasib warga biasa yang ingin mengkritik jalan rusak di desanya? Atau bagaimana nasib wartawan yang sedang meliput kasus korupsi?

Cila memberikan ilustrasi yang sangat pas: "Bagi kami sendiri tentunya itu ancaman yang sangat nyata ya. Rasa-rasanya pisau itu sudah ada di dekat leher, dekat banget."

Bayang-Bayang Kelam Masa Lalu dan Ultimatum 7 Hari

Keraguan masyarakat sipil terhadap kinerja penegak hukum bukannya tanpa alasan. Cila mengingatkan publik bahwa Andrie hanyalah satu dari sekian banyak nama dalam daftar panjang korban kriminalisasi pejuang HAM. Ia mencontohkan kasus kriminalisasi pejuang lingkungan di Kalimantan Timur yang baru saja terjadi.

Belum lagi jika kita menengok ke belakang. Aksi Kamisan—aksi diam berbaju hitam setiap hari Kamis di depan Istana Negara—telah belasan tahun menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Kasus pembunuhan aktivis Munir Said Thalib yang diracun arsenik di pesawat lebih dari 20 tahun lalu pun, dalang utamanya masih menghirup udara bebas hingga hari ini.

"Rasa-rasanya dijawab dengan senyuman dan ketawa getir aja ya... Ya doa bersamanya adalah negara berani, setidaknya berani ada political will-nya (kemauan politik) untuk mau membuka siapa dalang dari peristiwa yang terjadi," Cila menjawab dengan nada satir ketika ditanya keyakinannya pada pemerintah.

Sebagai penutup, massa aksi memberikan ultimatum 7 hari kepada pihak kepolisian. Jika dalam seminggu ke depan tidak ada progres berarti—misalnya sketsa wajah pelaku belum dirilis atau motif belum ditemukan—masyarakat sipil berjanji akan melipatgandakan perlawanan. Mereka akan menggelar aksi offline yang lebih masif dan melakukan mobilisasi tagar di media sosial untuk terus menekan pemerintah.

Ironisnya, keberanian Cila bersuara di Jogja ini pun langsung dibalas dengan teror digital. Ia mengaku baru saja menjadi korban doxing (penyebaran data pribadi tanpa izin di internet) oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan aksi solidaritas tersebut.

Kasus Andrie Yunus adalah cermin retak hukum kita. Kini, bola ada di tangan aparat kepolisian: mampukah mereka membongkar kasus ini hingga ke akar-akarnya, atau Andrie hanya akan menjadi catatan tambahan dalam buku panjang ketidakadilan di negeri ini? Mari kita kawal bersama.

Posting Komentar untuk "Dukungan untuk Andrie Yunus menggema di Bundaran UGM Yogyakarta"