Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Trump sebut pemimpin tertinggi baru Iran cacat meski selamat, merasa terhormat bunuh rezim Khamenei

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan penilaian terbarunya mengenai kondisi Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News yang dirilis Jumat (13/3/2026), Trump menyatakan keyakinannya bahwa penerus Ayatollah Ali Khamenei tersebut dalam kondisi 'terluka atau cacat' namun kemungkinan besar masih hidup.

"Terluka atau cacar namun kemungkinan masih hidup dalam beberapa bentuk," kata Trump.

Pernyataan Trump muncul setelah Mojtaba Khamenei, yang naik takhta pasca tewasnya sang ayah Ali Khameneui dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu—tidak pernah muncul di depan publik, sejak dipilih menjadi pemimpin tertinggi pada Minggu (8/23/2026).

Pesan resmi yang mengatasnamakan dirinya baru-baru ini hanya dibacakan oleh penyiar televisi pemerintah Iran, yang memicu spekulasi luas mengenai kapasitas fisiknya untuk memimpin di tengah perang yang kian memanas.

Di sisi lain, Trump melalui platform Truth Social kembali melontarkan pernyataan keras terkait operasi militer yang disebutnya Operation Epic Fury.

Ia mengklaim bahwa militer AS telah berhasil melumpuhkan kekuatan Iran secara total.

"Kami benar-benar menghancurkan rezim teroris Iran—secara militer, ekonomi, dan lainnya. Angkatan laut mereka hilang, angkatan udara tidak ada lagi, rudal dan drone telah dimusnahkan," tulis Trump. 

"Dan para pemimpin mereka telah disapu dari muka bumi," kata Trump.

Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang sangat besar.

“Kami memiliki daya tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan banyak waktu — lihat saja apa yang akan terjadi pada orang-orang gila ini hari ini.”

Ia bahkan menyebut bahwa membasmi para pemimpin Iran merupakan sebuah kehormatan besar baginya selaku Presiden ke-47 Amerika Serikat.

Sebab katanya rezim Iran telah membunuh orang-orang tak bersalah di seluruh dunia selama puluhan tahun.

“Mereka telah membunuh orang-orang tak berdosa di seluruh dunia selama 47 tahun, dan sekarang saya, sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat, yang membunuh mereka. Betapa besarnya kehormatan untuk melakukan itu!” ujar Trump.

Meski ditekan oleh pernyataan Trump, rezim Iran tetap menunjukkan sikap menantang.

Melalui pernyataan resmi, Mojtaba Khamenei (yang dibacakan oleh penyiar) bersumpah akan terus menggunakan tuas pemblokiran Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang menghancurkan infrastruktur Iran.

Karenanya sejumlah kapal tanker minyak di sana dilaporkan diserang dan terjebak di jalur pelayaran penting tersebut, sementara harga minyak dunia bertahan di sekitar 100 dolar per barel.

Atas hal itu, Trump berjanji akan menghancurkannya.

“Mereka banyak berbicara, jadi dia harus membuktikannya. Kita lihat saja nanti karena kami sedang menghancurkan mereka,” kata Trump.

“Kami menghantam mereka lebih keras daripada siapa pun yang pernah dihantam sejak Perang Dunia II," tambah Trump.

Krisis di Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi kritis.

 Jalur logistik energi paling vital di dunia ini dilaporkan lumpuh total.

Serangkaian serangan terhadap kapal tanker minyak dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan lebih dari 150 kapal terjebak dan tidak berani melintas.

Hal itu mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di kisaran 100 dolar per barel.

Pemerintah Iran sendiri melalui duta besarnya di Siprus dan penasihat kepresidenan sempat mengonfirmasi bahwa Mojtaba Khamenei memang terluka akibat pemboman yang menewaskan ayahnya.

Namun menegaskan bahwa sang pemimpin tetap menjalankan tugas otoritasnya meskipun dalam kondisi pemulihan.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. 

Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut.

Para analis keamanan menilai potensi gangguan di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap pasar energi global dan stabilitas ekonomi dunia jika konflik terus meningkat.

Iran Umumkan Terus Gempur Instalasi Militer AS

Pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengumumkan peluncuran fase ke-44 operasi militer besar yang menargetkan instalasi militer Israel serta pangkalan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah, Jumat (13/3/2026).

Operasi yang dinamai Operation True Promise 4 tersebut disebut sebagai bagian dari serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik regional.

Media pemerintah Iran melaporkan serangan diluncurkan pada malam ke-23 Ramadan dengan menyasar sejumlah wilayah di Israel utara, termasuk Kiryat Shmona, Haifa, dan Hadera, serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Gunakan Rudal Balistik dan Drone

Dalam operasi tersebut, IRGC menyatakan menggunakan berbagai jenis rudal balistik canggih, termasuk Khorramshahr missile, Kheibar Shekan missile, Fattah hypersonic missile, Imad missile, dan Qadr missile.

Selain rudal, Iran juga meluncurkan serangan drone presisi terhadap target yang disebut sebagai posisi militer musuh.

Operasi itu diberi sandi “Ya Sadiq al-Wa’ad” yang berarti “Wahai Penjaga Janji,” dan disebut sebagai simbol komitmen Iran dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Serangan ini juga diklaim sebagai penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang disebut Iran sebagai figur perlawanan, termasuk Qasem Soleimani, Hassan Nasrallah, Ismail Haniyeh, dan Yahya Sinwar.

Klaim Jatuhkan Pesawat Tanker AS

Dalam pernyataan resminya, IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tanker militer Amerika Serikat jenis Boeing KC-130 Stratotanker yang disebut sedang mengisi bahan bakar jet tempur Israel di udara.

Iran menyatakan seluruh enam awak pesawat tersebut tewas dalam insiden tersebut.

Namun klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh sumber militer Barat.

Sebelumnya, laporan terpisah juga menyebut pesawat tanker milik US Air Force jatuh di wilayah Irak dalam insiden yang masih diselidiki.

Iran Keluarkan Ancaman Keras

Seorang pejabat senior IRGC, Ali Fadavi, mengatakan operasi tersebut menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Ia menyebut pasukan Amerika Serikat dan Israel mengalami tekanan besar sejak dimulainya Operation True Promise 4.

Sementara itu, komandan markas pertahanan Iran Khatam al-Anbiya Headquarters, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa musuh akan membayar harga atas kejahatan mereka.

IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada pasukan Amerika di Timur Tengah agar segera meninggalkan kawasan tersebut.

Iran menyatakan operasi ini merupakan respons terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu yang menurut Teheran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran menegaskan bahwa serangan mereka hanya menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat dan Israel, serta tidak ditujukan kepada negara-negara Arab di kawasan.

Serangan terbaru juga berlangsung menjelang peringatan Quds Day, hari solidaritas global bagi rakyat Palestina yang setiap tahun diperingati di Iran dan sejumlah negara lainnya.

Para analis menilai eskalasi konflik ini meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas di Timur Tengah, terutama jika serangan balasan terus berlanjut antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Posting Komentar untuk "Trump sebut pemimpin tertinggi baru Iran cacat meski selamat, merasa terhormat bunuh rezim Khamenei"