Perang Iran vs Amerika, hujan roket di Galilea Israel dan Australia tarik staf

GOHANS NEWS - TERKINI perang Iran vs Amerika. Australia mengambil langkah darurat dengan menarik sebagian staf diplomatiknya dari kawasan tersebut.
Konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memasuki hari ke-14 dengan eskalasi serangan militer di berbagai wilayah Timur Tengah.
Media Israel melaporkan kalau jumlah orang yang terluka akibat roket yang jatuh di wilayah Galilea, Israel utara, telah meningkat menjadi 80 orang.
Sementara Pemerintah Australia memerintahkan para pejabat non-esensial yang bertugas di Israel dan Uni Arab Emirates untuk segera meninggalkan negara penugasan menyusul memburuknya situasi keamanan di kawasan.
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, melalui pernyataan di media sosial pada Jumat (13/3/2026).
Dalam cuitannya ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai langkah pencegahan guna melindungi keselamatan staf diplomatik Australia di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional.
Menurut Wong, pemerintah Australia hanya menarik staf yang tidak memiliki peran vital, sementara sejumlah pejabat penting tetap berada di lokasi untuk membantu warga negara Australia yang masih berada di wilayah tersebut.
Lebih lanjut pemerintah Australia juga mempercepat proses evakuasi warga negaranya dari kawasan Timur Tengah.
Dua penerbangan yang membawa total 307 warga Australia dan penduduk tetap dijadwalkan tiba di Melbourne dan Sydney pada Jumat pagi setelah diberangkatkan dari Uni Emirat Arab.
Selain itu, pemerintah Australia turut menyiapkan empat penerbangan tambahan pada malam hari yang akan digunakan untuk memulangkan warga Australia lainnya, tergantung pada kondisi keamanan dan ketersediaan wilayah udara di kawasan tersebut.
Langkah evakuasi ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.
Banyak negara kini mulai memprioritaskan keselamatan warganya sambil terus memantau perkembangan situasi geopolitik yang masih sangat dinamis.
Timteng Memanas usai Digertak Mojtaba Khamenei
Langkah evakuasi ini dilakukan setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pernyataan keras terkait konflik yang sedang berlangsung.
Mojtaba Khamenei sendiri resmi menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan gabungan yang dilakukan oleh United States dan Israel terhadap Iran.
Pergantian kepemimpinan tersebut terjadi di tengah situasi perang yang semakin memanas di kawasan.
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak dilantik, ia bersumpah akan membalas kematian warga Iran yang menjadi korban serangan militer dalam konflik Timur Tengah yang semakin meluas.
Mojtaba juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mengabaikan tuntutan pembalasan terhadap kematian para korban yang disebutnya sebagai “martir”.
“Kita akan membalas darah para martir kita,” tambah Khamenei.
Ia menyatakan bahwa sebagian dari pembalasan tersebut telah mulai terlihat, namun menegaskan bahwa Iran akan terus mengejar balasan hingga tuntutan tersebut terpenuhi sepenuhnya.
Pernyataan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran negara-negara Barat mengenai potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Ancaman pembalasan dari Iran dinilai dapat memicu serangan lanjutan yang berpotensi melibatkan lebih banyak negara di kawasan.
Dilansir dari Al Jazeera, gangguan serius terhadap pelayaran energi di Selat Hormuz memicu lonjakan tajam harga minyak mentah global.
Jalur laut vital tersebut menjadi akses utama ekspor energi dari kawasan Teluk Persia ke pasar dunia.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan perdananya memperingatkan serangan terhadap Israel dan aset militer Amerika Serikat akan terus berlanjut jika pangkalan AS di Timur Tengah tidak ditutup.
Militer Israel pada Jumat pagi meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran baru ke Teheran, menyebabkan sejumlah wilayah kota diselimuti asap tebal.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menyebut sedikitnya 1.348 warga sipil tewas sejak konflik meningkat, dengan korban berasal dari berbagai kelompok usia.
Berikut perkembangan utama dalam 24 jam terakhir:
1. Di Iran
Mojtaba Khamenei menegaskan serangan terhadap Israel dan aset militer AS akan berlanjut jika pangkalan AS di kawasan tidak ditutup.
Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke Teheran yang memicu kerusakan infrastruktur dan asap tebal di sejumlah distrik.
Penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah Brent melonjak di atas 100 dolar AS per barel.
Iran melaporkan sedikitnya 1.348 warga sipil tewas akibat serangan.
2. Di Negara-Negara Teluk
Iran meluncurkan gelombang drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menampung fasilitas militer AS serta menargetkan kapal tanker dan infrastruktur energi.
Bahrain mengklaim mencegat 114 rudal dan 190 drone sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Arab Saudi melaporkan menghancurkan puluhan drone yang melanggar wilayah udaranya.
Uni Emirat Arab mengecam serangan Iran setelah fasilitas sipil, termasuk bandara internasional dan hotel, terdampak.
Australia memerintahkan evakuasi pejabat non-esensial dari UEA dan Israel serta mengimbau warganya meninggalkan kawasan.
Qatar menutup wilayah udara sementara dan mengoperasikan lebih dari 140 penerbangan khusus untuk evakuasi warga.
Pemerintah Qatar membantah tudingan penghentian produksi LNG, dengan menegaskan gangguan dipicu serangan drone Iran.
3. Di Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump menyatakan perang terhadap Iran berlangsung cepat dan menegaskan kekuatan militer negaranya.
Lebih dari 250 organisasi sipil mendesak Kongres menghentikan pendanaan perang yang telah menghabiskan sekitar 11,3 miliar dolar AS dalam enam hari pertama konflik.
Senator Lindsey Graham menilai kecil kemungkinan pengerahan pasukan darat, namun memperingatkan konflik dapat berlangsung lama.
4. Di Israel
Iran kembali meluncurkan gelombang rudal baru ke wilayah Israel, memaksa warga menuju tempat perlindungan.
Israel mengklaim telah menargetkan pos pemeriksaan pasukan Basij di Teheran.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan operasi militer Israel dapat membuka peluang perubahan rezim di Iran.
5. Di Irak dan Lebanon
Pesawat pengisian bahan bakar militer AS jenis KC-135 jatuh di Irak barat, menurut Komando Pusat AS.
Irak menutup operasi pelabuhan setelah serangan terhadap kapal tanker minyak milik AS menewaskan seorang awak kapal.
Presiden Prancis Emmanuel Macron melaporkan enam tentaranya terluka akibat serangan drone di Erbil, wilayah otonom Kurdi Irak.
Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan ratusan orang dan memicu pengungsian massal hingga sekitar 700.000–750.000 warga.
Media-media tersebut juga melaporkan bahwa ratusan rumah di wilayah Galilea di Israel utara rusak akibat roket dalam serangan serentak yang dikaitkan dengan peluncuran rudal oleh Iran dan Hizbullah.
Bobolnya sistem pertahanan Israel ini memicu ketegangan antara otoritas lokal dan tentara Israel mengenai cara mengelola situasi keamanan.
Media Israel melaporkan kalau sekitar 300 rumah rusak di Galilea akibat roket yang jatuh di sebuah bangunan, sementara layanan ambulans Israel melaporkan kalau 80 orang pemukim Yahudi Israel terluka dengan berbagai tingkat keparahan akibat insiden tersebut.
Media menjelaskan kalau serangan itu merupakan bagian dari tiga gelombang roket beruntun yang menargetkan Israel utara dalam waktu satu jam pada Jumat dini hari.
Pada saat yang sama, laporan media Israel mencatat bahwa sebuah bangunan di daerah Kiryat Tivon dekat kota Haifa rusak setelah terkena roket, tanpa ada laporan korban luka.
Media Israel juga melaporkan pada Jumat pagi bahwa sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran yang menargetkan Eilat dan Lembah Arava berhasil dicegat, tanpa ada laporan korban luka.
Klaim Donald Trump
Kian meningkatnya keparahan yang diderita Israel dampak serangan Iran ini terjadi saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim kalau Iran hampir 'habis'.
Mengatakan kepada para pemimpin G7 dalam pertemuan daring pada Rabu, Trump menyebut bahwa Iran "berada di ambang penyerahan diri," demikian laporan Axios pada hari Jumat, mengutip tiga pejabat G7 yang telah melihat percakapan tersebut.

Posting Komentar untuk "Perang Iran vs Amerika, hujan roket di Galilea Israel dan Australia tarik staf"