Penyiraman air keras ke Andrie Yunus, KontraS: Bukan lagi alarm, ini jurang demokrasi

Ringkasan Berita:
- KontraS menyebut aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus bukan alarm lagi melainkan sudah taraf marabahaya.
- Peristiwa yang dialami Andrie Yunus adalah titik terendah demokrasi di Indonesia.
- Menurut Koordinator Badan Pekerja KontraS, penyiraman air keras terhadap Andrie menjadi ironi kedua berturut-turut jelang ulang tahun KontraS yang jatuh setiap tanggal 20 Maret.
GOHANS MIND- Serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus mendapat kecaman keras.
Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Dimas Bagus Arya menilai, serangan penyiraman air keras tersebut bukan lagi alarm, melainkan sudah di taraf marabahaya.
Ia juga menekankan, peristiwa yang dialami Andrie Yunus adalah titik terendah demokrasi di Indonesia.
Menurut Dimas, penyiraman air keras terhadap Andrie menjadi ironi kedua berturut-turut jelang ulang tahun KontraS yang jatuh setiap tanggal 20 Maret.
Tahun 2025, Dimas menyebut, ulang tahun ke-27 KontraS justru mendapat 'kado' berupa Revisi UU TNI (Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia) yang dinilai berisiko mengganggu profesionalisme TNI dan memperluas kembali keterlibatan militer di ranah sipil, seperti yang terjadi selama 32 tahun rezim Orde Baru.
Kini, jelang ulang tahun KontraS yang ke-28 pada 20 Maret 2026 nanti, justru terjadi peristiwa zalim berupa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang merupakan ancaman bagi pihak-pihak yang kukuh memperjuangkan demokrasi di Tanah Air.
"Ini bukan lagi alarm, ini marabahaya. Di bulan yang suci ini dinodai tindakan yang menurut kami di KontraS adalah sebuah kondisi yang sangat-sangat brutal, sangat-sangat buruk, sangat-sangat zalim," kata Dimas dalam konferensi pers yang tayang di kanal YouTube Yayasan LBH Indonesia, Jumat (13/3/2026), dikutip dari Tribunnews.
"Saya perlu tekankan kerja-kerja KontraS sudah melintang 28 tahun. Tahun ini, KontraS akan berulang tahun ke-28."
"Tahun lalu, kado untuk KontraS adalah Revisi UU TNI, tahun ini ancaman bukan cuma ancaman buat Kontras, tetapi juga buat temen-temen pers, buruh, mahasiswa, pelajar, temen-temen yang tidak pernah lelah memperjuangkan demokrasi."
"Situasi ini bukan lagi alarm bahaya demokrasi, ini adalah jurang demokrasi, titik nadir demokrasi."
Desak Usut Tuntas Segala Aksi Teror
Dimas lantas mendesak pemerintah untuk mengusut segala aksi teror yang dialami KontraS dan para pelakunya, serta meminta Kementerian Hak Asasi Manusia RI (HAM) untuk berdiri bersama para pejuang HAM.
"Saya cuma mau bilang satu, KontraS selalu diteror, pelakunya harus diusut, kami minta akuntabilitas, penegakan hukum kepada negara. Kami meminta keseriusan negara terhadap perlindungan hak asasi manusia," ucap Dimas.
"Kami juga meminta, supaya rezim hari ini yang sudah membentuk Kementerian HAM mau berdiri bersama pejuang pembela HAM."
Dimas menegaskan, intimidasi terhadap Andrie Yunus tak akan menyurutkan perjuangan KontraS.
"Dengan teror, intimidasi, apa yang dialami Andrie Yunus tidak akan menyurutkan dan menghentikan langkah KontraS yang sudah dibangun 28 tahun," papar Dimas.
"Saya akan mengutip sedikit satu kutipan dari anime favorit saya, Attack on Titan, 'We keep moving forward.'"
Andrie Yunus Jadi Korban Serangan Penyiraman Air Keras
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tak dikenal (OTK) di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026) malam.
Menurut keterangan resmi dari KontraS, peristiwa ini terjadi tak lama setelah Andrie Yunus rampung melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBH) bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia pada Kamis sekitar pukul 23.00 WIB.
Menurut informasi awal yang dihimpun, Andrie sedang mengendarai kendaraan roda dua miliknya di Jalan Salemba I - Talang, Jakarta Pusat sekitar pukul 23.37 WIB.
Lalu, dua orang pelaku menghampiri Andrie secara melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua, diduga sepeda motor matic Honda Beat keluaran antara tahun 2016 hingga 2021.
Terduga pelaku adalah dua orang laki-laki berboncengan dengan satu motor, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
- Pelaku pertama, yang merupakan pengendara menggunakan kaos warna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm warna hitam.
- Pelaku kedua, penumpang belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai 'buff' berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
Salah satu pelaku lantas menyiramkan air keras ke arah Andrie Yunus hingga mengenai sebagian tubuhnya.
Setelah kejadian, Andrie dibawa oleh teman kontrakannya yang bernama Rizky dan Hardingga ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan hingga kini masih menjalani perawatan.
Andrie berada di bawah penangan enam orang dokter spesialis yang berbeda, yakni mata, THT, syaraf, tulang, thorax, organ dalam, dan kulit.
Akibat serangan ini, Andrie mengalami luka serius di bagian tangan kanan dan kiri, muka, dada, dan bagian mata.
Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebesar 24 persen.
Andrie juga tengah menunggu tindakan medis berupa operasi mata untuk mengganti jaringan membran amnion atau cangkok dengan bius lokal.
Andrie Yunus sendiri diketahui merupakan satu dari tiga aktivis Koalisi Masyarakat Sipil untuk Sektor Keamanan yang nekat menggedor pintu rapat panja (panitia kerja) Revisi Undang-Undang (UU) TNI di ruang Ruby 1 dan 2 Fairmont Hotel, Jakarta, Sabtu (15/3/2025) atau hampir setahun lalu, dikutip dari Kompas.com.
Saat itu, Andrie sempat dihalau oleh dua orang staf berbaju batik, serta didorong hingga terjatuh.
Ketiga aktivis ini pun meneriakkan tuntutan mereka di depan pintu yang sudah tertutup.
Mereka meminta agar pembahasan RUU TNI dihentikan.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Googlenews GOHANS MIND
Posting Komentar untuk "Penyiraman air keras ke Andrie Yunus, KontraS: Bukan lagi alarm, ini jurang demokrasi"