Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Kiai Bayanuddin Sudin, sempat hidup bersama anak jalanan, kini pimpin Pondok Harisul Khairaat

Kisah Kiai Bayanuddin Sudin, sempat hidup bersama anak jalanan, kini pimpin Pondok Harisul Khairaat
Ringkasan Berita:
  • Kiai Bayanuddin Sudin merupakan pimpinan Pondok Pesantren Harisul Khairaat Bumi Hijrah yang memulai karier dari titik terendah.
  • Sempat mengalami drop out (DO) dari universitas dan kehilangan ayah secara bersamaan menjadi titik balik perjuangannya.
  • Kiai Bayanuddin menekankan pentingnya penguatan ilmu agama bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman.
 

GOHANS NEWS - Perjalanan hidup Kiai Bayanuddin Sudin, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Harisul Khairaat Bumi Hijrah, diwarnai perjuangan panjang, kesederhanaan dan pengabdian yang tumbuh sejak masa kecil.

Ketika ditemui di ponpes tempat ia membagikan ilmunya, Kiai yang juga akrab disapa para murid serta guru dengan Ustaz Baya, bercerita panjang soal latar belakang, jejak pendidikan hingga perjalanan dakwah yang dijalani.

Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ibunya berprofesi sebagai guru sekolah dasar, sementara ayahnya bekerja sebagai pegawai kantor camat.

Lingkungan keluarga yang penuh kasih dan keteladanan itu menanamkan satu nilai utama dalam dirinya, yakni keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, cita-citanya sederhana, ingin menjadi seorang guru.

"Sosok orang tua saya luar biasa menginspirasi, sejak SD, kepala sekolahnya Ibu saya sendiri. Sosok itu kemudian melekat pada saya 24 jam. Itulah kemudian menjadi inspirasi utama saya, cita-cita saya tidak muluk-muluk saya hanya ingin jadi seorang guru," ujar Ustaz Baya pada Senin (9/2/2026).

Kata Ustaz Baya, pendidikan dasarnya ia tempuh di Halmahera Timur, sebelum melanjutkan SMP di Kota Tidore Kepulauan.

Selepas SMP, ia memilih mondok dan  menjadi santri angkatan pertama di Ponpes Harisul Khairaat Bumi Hijrah pada jenjang aliyah. 

Selesai menempuh pendidikan menengah atas, tumbuh kesadaran di benaknya, bahwa pendalaman ilmu agama membutuhkan penguasaan bahasa Arab, yang kemudian mendorongnya merantau ke Jakarta.

Keputusan merantau bukan perkara mudah. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat perjalanannya penuh tantangan. Ia menempuh perjalanan laut berhari-hari dan menjalani hidup berpindah-pindah, bahkan bermalam dari masjid ke masjid. 

"Meski berat, ketika orang tua melepas saya, pesan mereka hanya satu, saya masih ingat sekali kata bapak saya, bapak tidak menginginkan kamu menjadi apapun, semua terserah kamu yang penting kamu bermanfaat untuk orang lain," tuturnya.

Dengan tekad kuat, ia akhirnya menempuh pendidikan bahasa Arab di Jakarta Timur, sebelum akhirnya melanjutkan ke sejumlah lembaga pendidikan lain.

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami kegagalan, termasuk harus meninggalkan perguruan tinggi yang pernah ditempuh.

Masa sulit itu beriringan dengan wafatnya sang ayah, yang menjadi pukulan berat dalam hidupnya. Namun dari titik terendah itu, ia justru kembali menguatkan peran sebagai pendidik dan pendakwah.

"Saya masuk ke Institut Ilmu Sosial dan Politik di Depok, Jawa Barat. Alhamdulillah saya sampai ke semester 4 menjelang penyusunan proposal skripsi tetapi kemudian terkendala dengan sesuatu dan lain hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, tidak bisa saya ceritakan lebih jauh. Tapi setidaknya ada kasus yang membuat saya harus meninggalkan institut tersebut, saya dinyatakan dikeluarkan,"

"Saya benar-benar merasa terpukul sekali saat itu, sebab masa saya dikeluarkan itu juga bertepatan dengan meninggalnya ayahanda tercinta. Dalam hati saya berpikir bahwa sepertinya saya harus jatuh untuk bisa berdiri, harus bisa berdiri untuk bisa jalan dan lari. Saat itulah yang kemudian membangkitkan gairah saya bahwa ternyata saya harus Kembali lagi Bahasa Arab."

Di tengah keterpurukan itu, Ustaz Baya mengajar mengaji, berdagang kecil-kecilan, hingga hidup bersama anak-anak jalanan. Dari ruang-ruang sederhana itulah dakwahnya tumbuh.

Perlahan, lingkungan tempat tinggalnya berubah menjadi ruang pembinaan keagamaan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

"Tetapi di samping deretan pembelajaran itu saya tidak sampai meninggalkan peran saya sebagai seorang muslim. Saya mengajar mengaji kepada teman-teman seperjuangan saya. Kalau diingat-ingat masa itu luar biasa, semoga bisa menjadi amal jariyah untuk menembus dosa-dosa saya kala itu dan apa yang saya ajarkan menjadi ilmu yang bermanfaat," Ustaz Baya menuturkan.

"Saya sadar bahwa benar kata Nabi, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Saya merasakan jalan-jalan itu."

"Mereka menerima saya, memberi tempat tinggal, hingga sampai pada salah satu ibu-ibu yang saya ajar, memperkenalkan anak perempuannya kepada saya. Saya yang juga merasa sudah saatnya menikah, tanpa pikir panjang hanya memberi dua syarat kepada calon mertua saya tersebut. Saya meminta agar anak perempuannya menggunakan hijab dan mau mengaji serta bersedia dibawa pulang. Disetujui dan satu minggu kemudian nikah," cerita Ustaz Baya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan menikah, Ustaz Baya memilih kembali ke Maluku Utara pada 2011.

Ia mulai mengajar di beberapa lembaga pendidikan hingga akhirnya kembali mengabdi di Ponpes Harisul Khairaat. Kepercayaan demi kepercayaan diberikan kepadanya, mulai dari pengasuh, pengelola biro dakwah, hingga pada 2015 dipercaya menjadi pimpinan ponpes.

"Bukan cita-cita saya untuk jadi seorang Kiai, tidak ada dalam benak saya. Tapi peran itu tidak mungkin saya hindari. Alhamdulillah saya menjalankan peran ini, "

Dalam perannya sebagai pimpinan, ia menilai perjalanan dakwah selalu dipenuhi dinamika, penolakan, dan ujian. Namun semua itu diyakininya sebagai bagian dari pengabdian dan ladang amal jariyah.

"Banyak hal yang saya jalani, jatuh bangun di dunia dakwah. Saya rasakan betul, mulai dari door to door mengajak orang dengan segala ilmu yang saya miliki, tak jarang juga saya ditolak. Semua itu mudah-mudahan menjadi amal jariyah. Melihat perjalanan dakwah saya, dan ketika membuka lembaran-lembaran sejarah perjalanan dakwah nabi pada fase-fase Makkah yang mengalami penolakan hingga pemboikotan dan sebagainya, rasa-rasanya yang saya alami ini tidak seberapa." ujarnya.

Kepada generasi muda, Kiai menekankan pentingnya menjadikan ilmu agama sebagai fondasi utama kehidupan.

Menurut Ustaz Baya, tantangan zaman yang semakin kompleks hanya dapat dihadapi dengan niat yang lurus, dasar keimanan yang kuat, dan kesungguhan menuntut ilmu, sebagai bekal bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

"Dengan segala lika-liku yang saya alami, saya sudah menjadi pimpinan pondok pesantren Harisul Khairaat. Saya yakin apa yang saya alami akan berbeda dengan generasi-generasi berikutnya. Pesan saya untuk generasi muda, bekali dasar hidup dengan se kuat-kuatnya, karena ini adalah pijakan. Mau sampai di mana kita kalau tidak kembali pada agama?"

"Karena itu perkuat dan perdalam ilmu agama. Ketahuilah bahwa zaman kita adalah zaman yang berbeda, karena itu Imam Ali Bin Abi Talib pernah mengatakan 'Ajarkanlah anak-anak kalian karena kelak mereka akan hadir di zaman yang bukan zaman kamu lagi'."

 "Lewat hadist ini saya anjurkan pada generasi muda untuk ayo diperkuat ilmu agama kita, karena zaman semakin kompleks, apa yang kita hadapi kedepan mudah-mudahan kita kuat, karena dasar agama kita sudah kokoh. Kuatkan niat, bersihkan niat, tempuh ilmu agama sebagai pijakan untuk masa depan. Ilmu-ilmu lainnya adalah pelengkap karena kita tidak hidup untuk hari ini, tetapi untuk hari esok." tukas Ustaz baya. (*)

Posting Komentar untuk "Kisah Kiai Bayanuddin Sudin, sempat hidup bersama anak jalanan, kini pimpin Pondok Harisul Khairaat"

referral creative