Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

'Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Orang Indonesia': Viral Vdeo WNI Asal Bulukumba di Iran Kritik Sikap Negaranya

'Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Orang Indonesia': Viral Vdeo WNI Asal Bulukumba di Iran Kritik Sikap Negaranya

Lampu-lampu kota Teheran mulai menyala ketika malam turun perlahan di atas atap-atap beton yang padat. Seorang pria Indonesia menyalakan kamera ponselnya. Suaranya terdengar tenang, tetapi ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.

“Assalamualaikum, Bapak Presiden Prabowo yang saya hormati…,” katanya membuka rekaman itu.

Suara itu milik Ismail Amin Pasannai, warga negara Indonesia asal Bulukumba, Sulawesi Selatan. Beberapa detik setelah pembukaan, ia menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi kutipan paling banyak dibagikan di media sosial.

“Jujur Pak, baru kali ini saya merasa malu sebagai orang Indonesia di Iran, Pak.”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada marah. Namun justru karena diucapkan dengan tenang, ia terasa lebih berat.

Video tersebut segera menyebar. Potongan kalimatnya diputar ulang di berbagai platform. Banyak orang berhenti pada satu pertanyaan sederhana: mengapa seorang WNI yang hidup di luar negeri merasa malu menjadi orang Indonesia?

“Saya selalu dihormati sebagai orang Indonesia”

Dalam rekaman itu, Ismail menjelaskan bahwa selama tinggal di Iran, identitasnya sebagai warga Indonesia justru sering membuatnya dihormati.

“Saya begitu dihormati di Iran dengan status saya sebagai WNI, Pak.” katanya.

Ia menceritakan bahwa banyak orang Iran memiliki pandangan positif terhadap Indonesia. Bagi sebagian masyarakat di sana, Indonesia dikenal sebagai negara yang berani bersuara membela bangsa-bangsa yang tertindas.

“Indonesia dikenang oleh orang-orang Iran itu sebagai negara yang paling konsen membela negara-negara yang tertindas. Membela Palestina, dan termasuk berani di hadapan hegemoni Barat.”

Ismail bahkan mengatakan bahwa dalam percakapan sehari-hari, nama Indonesia sering dikaitkan dengan sejarah politik global.

“Mereka selalu menganggap bahwa semua Presiden Indonesia itu seperti Sukarno.”

Pernyataan itu merujuk pada reputasi diplomasi Indonesia pada masa Presiden Soekarno, terutama setelah Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan semangat solidaritas negara-negara berkembang dan menjadi fondasi lahirnya Gerakan Non-Blok.

Dalam banyak literatur hubungan internasional, termasuk kajian akademik yang sering dirujuk oleh peneliti Asia-Afrika, Indonesia memang dikenal sebagai salah satu motor diplomasi dunia berkembang pada masa itu.

Namun menurut Ismail, citra tersebut kini mulai dipertanyakan.

“Sekarang, di mana posisi Indonesia?”

Nada suara Ismail berubah sedikit ketika ia mulai membicarakan konflik yang sedang memanas di Timur Tengah.

“Namun sekarang, di mana posisi Indonesia ketika Iran berperang melawan ‘Israel’ dan Amerika?” katanya.

Ia menyampaikan kegelisahan karena merasa sikap Indonesia tidak lagi terlihat tegas di mata masyarakat Iran.

“Anda tahu tidak, Pak? Dengan duta besar Iran, mereka lebih memilih berkonsultasi ke Pak JK dibanding ke Anda atau ke menteri Anda. Itu isyarat Iran mulai tidak percaya pada Anda.”

Ismail juga menyinggung bagaimana ia melihat persepsi terhadap kepemimpinan Indonesia berubah.

“Anda sudah dilihat sebagai orangnya Trump, bukan orang non-blok dan netral lagi.”

Pernyataan itu tentu bukan klaim resmi diplomasi internasional, melainkan kesan pribadi yang ia rasakan selama berada di Iran. Namun karena disampaikan secara langsung dari lokasi konflik geopolitik yang sensitif, kalimat tersebut memicu diskusi luas di Indonesia.

Kritik terhadap sikap Indonesia

Dalam bagian lain videonya, Ismail mempertanyakan mengapa Indonesia dianggap belum cukup tegas dalam merespons konflik.

“Belum lagi, saya belum mendengar Anda mengecam serangan ilegal ‘Israel’ dan Amerika atas Iran.”

Ia juga menyinggung pernyataan duka yang menurutnya muncul terlambat.

“Anda juga baru mengeluarkan pernyataan duka atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran. Itu setelah Dubes Iran bertemu Pak JK dan menerima surat duka dari Ibu Megawati. Mengapa setelah itu, Pak?”

Ismail kemudian menyampaikan kritik yang lebih tajam.

“Apa hanya karena keduanya adalah teman-teman Anda?”

Kalimat itu diikuti dengan pernyataan yang menunjukkan kekecewaannya terhadap wacana mediasi yang pernah disampaikan pemerintah Indonesia.

“Iran tidak minta dimediasi, Pak. Iran minta kecam serangan ilegal Amerika dan ‘Israel’.”

Diplomasi Indonesia selalu berjalan di jalur hati-hati

Pernyataan Ismail menjadi viral karena menyentuh isu sensitif: posisi Indonesia dalam konflik global.

Selama puluhan tahun, Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Prinsip ini pertama kali dirumuskan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 1948. Maknanya sederhana tetapi kompleks dalam praktik: Indonesia tidak memihak blok kekuatan tertentu, namun tetap aktif berperan dalam menjaga perdamaian dunia.

Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam berbagai pernyataan yang dilaporkan oleh media nasional menegaskan bahwa Indonesia selalu mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan hukum internasional. Pendekatan ini sering membuat Indonesia memilih bahasa diplomatik yang lebih hati-hati dibanding negara lain.

Namun bagi sebagian diaspora yang hidup langsung di kawasan konflik, pendekatan tersebut kadang terlihat terlalu jauh dari emosi publik lokal. 

Video Ismail tidak hanya menjadi viral karena kritiknya. Ia juga memperlihatkan bagaimana diaspora Indonesia melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Hidup di negara lain membuat seseorang berinteraksi langsung dengan narasi lokal yang sering kali berbeda dengan narasi di dalam negeri.

Dalam videonya, Ismail bahkan menyinggung respons masyarakat Iran terhadap konflik yang terjadi.

“Iran dari dulu tegas dan jelas. Iran tidak pernah mau memulai perang. Tapi kalau diserang, ya Iran membalas.”

Ia juga mempertanyakan narasi yang berkembang di dunia internasional.

“Amerika selalu membangun narasi Iran adalah biang ketidakamanan di Timur Tengah. Padahal siapa yang menyerang banyak negara di kawasan secara ilegal?”

Pernyataan tersebut adalah pandangan pribadi yang ia sampaikan berdasarkan pengalaman hidupnya di Iran. Namun justru karena disampaikan dengan bahasa yang jujur dan emosional, video itu menyentuh banyak orang.

Di akhir rekamannya, Ismail tidak menutup dengan kemarahan. Ia justru mengulang kembali perasaan yang sejak awal ia sampaikan.

“Jujur Pak, baru kali ini saya merasa malu sebagai orang Indonesia di Iran.”

Kalimat itu kini beredar luas di media sosial, dikutip oleh banyak orang dengan tafsir yang berbeda.

Sebagian melihatnya sebagai kritik tajam terhadap diplomasi Indonesia. Sebagian lain melihatnya sebagai ekspresi emosi seorang warga negara yang jauh dari tanah air.

Namun di tengah perdebatan itu, satu hal menjadi jelas: identitas sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh kebijakan pemerintahnya, tetapi juga oleh bagaimana warganya dipandang di dunia.

Dan pada suatu malam di Teheran, seorang pria dari Bulukumba mengingatkan kembali bahwa reputasi sebuah negara kadang terasa paling nyata di mata warganya yang hidup jauh dari rumah.***

Posting Komentar untuk "'Baru Kali Ini Saya Malu Jadi Orang Indonesia': Viral Vdeo WNI Asal Bulukumba di Iran Kritik Sikap Negaranya"